5 Pelajaran Hidup dalam Film Ranah 3 Warna, Semangat Mengejar Mimpi dan Cinta-Cita

MNC Portal
Rabu 06 Juli 2022 09:18 WIB
5 Pelajaran Hidup dalam Film Ranah 3 Warna, Semangat Mengejar Mimpi dan Cinta-Cita
Film Ranah 3 Warna. (Foto: celebrities.id/MNC)

JAKARTA, celebrities.id – Sejak rilis pada 30 Juni 2022 yang lalu, film bergenre drama berjudul Ranah 3 Warna yang diproduksi MNC Pictures telah banyak diminati para penonton setia film Indonesia. Film ini sebelumnya sudah dari lama dinantikan oleh para penggemar dan pecinta film yang sebelumnya harus menunggu akibat pandemi Covid-19 dua tahun belakangan ini. Film Ranah 3 Warna yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto bahkan sempat terpilih menjadi opening film dalam Jakarta Film Week 2021. 

Cerita Ranah 3 Warna sebelumnya diadaptasi dari sebuah novel terlaris karya Ahmad Fuadi. Dalam film ini, mengandung mantra yang dipegang teguh oleh Alif, yakni “man shabara zhafira” yang berarti bahwa siapa yang sabar akan beruntung. Terkadang sulit untuk bersabar, seakan hal tersebut adalah hal yang sia-sia. Namun, selalu ada hal baik yang bisa dipetik bagi mereka yang bersabar.

Film ini tak hanya menguras emosi dan air mata, namun juga sarat akan pesan moral seakan memberikan motivasi dan inspirasi positif untuk berjuang dalam menghadapi hidup, karir, masa depan hingga percintaan. Ada 5 pelajaran hidup yang mengajarkan kepada kita tentang arti sabar. Apa sajakah itu?

1. Semangat untuk mengejar mimpi dan cita-cita

Alif Fikri (19 tahun) yang diperankan Arbani Yasiz merupakan anak muda asal Maninjau yang sering diremehkan karena bercita-cita untuk berkuliah di Amerika. Meskipun dengan keterbatasan ekonomi keluarga, Alif tak patah semangat dan melakukan segala upaya untuk menempuh pendidikan tinggi. Meskipun tak dapat menjadi mahasiswa di ITB (Institut Teknologi Bandung) seperti sahabatnya Randai (19) yang diperankan oleh Teuku Rassya, Alif tetap melanjutkan kuliahnya sebagai mahasiswa di Universitas Padjajaran.

2. Adanya musibah bukan berarti dunia berakhir

Musibah teramat berat dialami oleh Alif yang sedang berproses dalam menjalankan kuliah di Bandung. Di tengah kehidupannya yang mulai membaik, Ayahanda Alif meninggal dunia yang membuat dunia Alif seakan hancur berkeping-keping. Bahkan, Alif sempat ingin memutuskan kembali ke kampung halaman dan bekerja saja demi mencari nafkah untuk Amak dan adik-adiknya. Namun, Amak ingin Alif untuk tetap melanjutkan mimpinya dan menyelesaikan amanat almarhum Ayahanda.

 

1
/
2