Alquran Larang Manusia Buang Air Sembarangan, Sains Buktikan Bahayanya

Novie Fauziah
Sabtu 04 Desember 2021 00:33 WIB
Alquran Larang Manusia Buang Air Sembarangan, Sains Buktikan Bahayanya
Alquran melarang umat Islam kencing dan buang air besar sembarangan. (foto: celebrities.id/freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Alquran sudah menuliskan dan menjelaskan tentang apa-apa yang akan terjadi di masa depan. Nabi Muhammad SAW pun mengingatkan kepada umat manusia agar menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah SWT, termasuk dua orang pengundang laknat.

Rasulullah bersabda:

“Waspadalah terhadap dua orang pengundang laknat.” Para sahabat bertanya, “Siapakah dua orang pengundang laknat itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang yang ,buang hajat di tengah jalan dan orang yang buang hajat di tempat bernaung manusia.” (HR. Ahmad dan Muslim).

“Tidaklah seseorang dari kalian buang air kecil di air yang tergenang, lalu mandi dengan air itu.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Diriwayatkan dari Jabir, bahwa Rasulullah melarang air Yang tergenang dikencingi. (HR. Muslim).

Beliau juga bersabda, “Jika salah seorang dari kalian (minum) maka jangan bernapas di dalam cangkirnya. Dan jika ingin buang air, maka jangan menyentuh kemaluannya dan jangan membersihkannya dengan tangan kanannya.”

Dalam beberapa hadist tersebut jelas menerangkan, dilarangnya buang air kecil atau kencing di sembarang tempat. Sebab terdapat berbagai penyakit yang dapat merusak kesehatan manusia.

Dikutip dari buku “Dikutip dari Buku Pintar Sains dalam Alquran” karya Dr Nadiah Thayyarah, terdapat sebuah riwayat hadist yang menjelaskan tentang pentingnya menjaga kebersihan. Khususnya setelah membuang air kecil atau besar.

Dari Abi Al-Ghadiyah al-Yamami, ia berkata, “Saya datang ke Madinah. Kemudian datanglah utusan Katsir ibn ash-Shillat. Rasulullah lalu memanggil mereka, namun tak seorang pun yang bangkit kecuali Abu Hurairah dan lima orang dari mereka. Aku salah satunya. Mereka lalu bangkit dan makan. Kemudian Abu Hurairah mencuci tangannya, lalu berseru, “Demi Allah, wahai penghuni masjid, kalian telah durhaka kepada Abu al-Qasim.” (HR. Ahmad).

Jika kita lihat dengan mata jernih faedah-faedah yang akan kita raih dengan mengikuti ajaran-ajaran Rasulullah di atas, maka kita akan mendapatkan hikmah di balik semuanya. Ilmu pengetahuan modern menyimpulkan adanya hubungan antara ketidakbersihan dan pencemaran dengan timbulnya penyakit, baik oleh bakteri atau virus.

Ada beberapa penyakit yang bisa menular melalui makanan atau air yang tercemar kotoran (melalui lubang anus atau mulut). Misalnya, demam tipus atau tifoid, kolera, disentri amuba, infeksi liver dan flu usus yang gejalanya berupa mencret dan muntah berat.

Demam tipus adalah penyakit umum yang timbul akibat bakteri Salmonella dan hanya menyerang manusia saja. Secara klinis, gejalanya berupa tubuh lemas, demam dan gangguan pada perut, pembengkakan pada limpa, serta kekurangan sel darah putih. Bakteri Salmonella akan masuk ke dalam tubuh melalui mulut.

Salmonella tipus ini bisa keluar bersama tinja, sebagaimana juga melalui urine. Walau pasien demam tipus telah sembuh, ia tetap membawa bakteri Salmonella. Bakteri ini mengendap di dua tempat; pada kantong empedu dan ginjal. Pertama, dari kantong empedu, bakteri ini bergerak menuju usus lalu keluar bersama feses.

Kedua, dari ginjal, bakteri ini akan keluar melalui urine. Dengan demikian, sungguh benar sabda Rasulullah yang melarang kita untuk buang air besar di jalanan dan buang air kecil di air tergenang.

Sebab, tinja dan urine penderita‘demam tipus dapat mencemari tanah, debu, dan air dcngan baktcri Salmonella. Apalagi bakteri ini dapat bertahan hidup di tanah bersama fase‘ selama enam minggu, sedang di air minimal sclama empat minggu.

Rasulullah juga memerintahkan kita untuk mencuci tangan dan tidak menggunakan tangan kanan untuk membersihkan diri sehabis buang air. Secara ilmiah, telah terbukti bahwa sebagian besar kasus keracunan makanan, tipus, dan disentri usus disebabkan oleh orang-orang yang membawa mikroba penyakit, tidak menjaga kesehatannya dan tidak mengikuti sunnah serta petunjuk Rasulullah.

Editor : Dhita Seftiawan

Topik Terkait