Asyik, Kini Ada Masker Antibakteri dan Antivirus dari Limbah Udang

Aan Haryono
Rabu 21 Juli 2021 21:12 WIB
Para mahasiswa mencoba menciptakan masker antibakteria dari limbah udang. (Foto: MPI/Aan Haryono)

SURABAYA, celebrities.id - Berbagai terobosan dalam pengunaan masker terus dilakukan. Termasuk masker ramah lingkungan tapi tetap aman. Salah satunya inovasi Chitomask berupa produk masker kain filter antibakteri dan antivirus yang ramah lingkungan dari limbah kulit udang.
 
Maskes antibakteri ini dibuat lima mahasiswa Universitas Airlangga yakni Reza Istiqomatul Hidayah mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan, Muhammad Rizky Widodo dan Salsabila Farah Rafidah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat. Ada pula Ardelia Bertha Prastika mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Firman Hidayat mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi.
 
Dilansir dari laman instagram Chitomask, varian Covid-19 lebih menular sehingga diperlukan proteksi lebih. Chitomask sendiri bisa memberikan proteksi tambahan dengan filternya yang memiliki kemampuan antivirus dan antibakteri. Terutama komposisi bahannya yang biodegradable atau mudah terurai secara alami sehingga bisa meminimalkan limbah masker saat pandemi.
 
CEO Chitomask Ardelia Bertha Prastika menuturkan, produknya bisa terurai dalam kurun waktu yang pendek. “Chitomask ini tidak merusak lingkungan, untuk terurainya pun paling lama satu bulan,” kata Ardelia, Rabu (22/7/2021).
 
Ia pun mengaku tahap pra-produksi dan produksi membutuhkan waktu lima hari. Sebelumnya ia sudah meneliti kain apa yang compatible untuk filter. Jadi prosesnya kitosan (limbah kulit udang, Red) dibuat gel terlebih dahulu hingga menunjukkan warna bening dan konsentratnya mengental.  
 
“Jika dihitung dari tahapan pembuatan gel hingga coating itu tiga hari. Sedangkan produksi filter memakan waktu dua hari, hari pertama pelarutan kitosan dan hari kedua pengovenan,” ujarnya.

 


 
Tim Chitomask menyebut beberapa keunggulan kitosan, antara lain senyawanya tidak beracun, tidak mengandung protein pemicu alergi, sebagai bahan alami yang biokompatibilitas, bioaktivitas dan keamanan biologis yang tinggi. 
 
Tim juga turut mendukung beberapa ketercapaian SDGs, salah satunya SDGs ke-14 mengenai life below water yang mencegah segala bentuk polusi kelautan. Dampak kesehatan dan lingkungan harus secara simultan ditangani bersama, artinya tidak dianggap satu lebih penting daripada yang lain.

“Semoga kedepannya masyarakat bisa bijak dalam bersikap, meskipun dalam fase yang menghantam seperti pandemi. Harus diingat kita hidup berdampingan dengan lingkungan. Pandemi bisa saja selesai, tetapi jangan sampai lingkungan menimbulkan persoalan baru,” kata Ardelia.
 

Editor : Mohammad Saifulloh