Cerita Desainer Malang Pakai Bahan Daur Ulang Bekas Spanduk Aksi Peringatan Tragedi Kanjuruhan, Sempat Takut Lantaran Tak Izin ke Aremania

Icon CameraAvirista Midaada
Selasa 15 November 2022 18:19 WIB
Cerita Desainer Malang Pakai Bahan Daur Ulang Bekas Spanduk Aksi Peringatan Tragedi Kanjuruhan, Sempat Takut Lantaran Tak Izin ke Aremania
Karya hasil rancangan desainer Malang dari daur ulang spanduk bekas aksi Tragedi Kanjuruhan. (Foto: celebrities.id/Avirista Midaada)

MALANG, celebrities.id - Mutiara Syarifuddin, desainer muda asal Malang, tak menyangka pakaian daur ulangnya yang mengangkat tema tragedi Kanjuruhan menjadi viral dan menuai prestasi. Pakaian itu memang didesain sedemikian rupa untuk lomba fashion show pakaian daur ulang di Surabaya.

Tiara bercerita, bagaimana dia berhasil menyabet juara dua fashion show bergengsi bertajuk Fashion Styling Upcycling Competition Soerabaia Fashion Trend 2023, berawal dia melihat aksi demonstrasi yang diikuti sekitar 15 ribu Aremania dan elemen masyarakat Malang raya pada peringatan 40 hari tragedi Kanjuruhan.Ā 

"Ada demo di situ, ada keranda yang ditaruh memutari Bundaran Tugu lengkap dengan foto-foto korbannya, di situ saya lihat ternyata banyak korban perempuan, sehingga saya terpanggil untuk ikut menyuarakan," ucap Tiara, ditemui di workshop pribadinya di Jalan Mayjen M Wiyono, Kota Malang, pada Selasa siang (15/11/2022).

Dari sanalah dia akhirnya memutuskan mencoba mengaplikasikan keprihatinan Aremania dalam fashion yang akan dilombakan di Surabaya pada Sabtu (12/11/2022). Tiara hanya perlu waktu tiga hari untuk mendesain pakaian bertemakan Disaster ini.

"Awalnya itu saya punya kain coba dipilok membuat spanduk itu, tapi ternyata hasilnya kurang bagus. Akhirnya saya mutuskan ngambil beberapa spanduk yang terpasang," ujarnya.

Tercatat ada lima spanduk bertuliskan 'Gas Air Mata vs Air Mata Ibu', 'Kemana Keadilan yang Ada Cuci Tangan', 'Stop Anarkis, 'Pray For Arema', hingga 'Kami Diserang Jadi Korban Tapi Disalahkan', diambil dari tiga titik mulai dari Bundaran Tugu, Jalan Ijen, hingga depan Masjid Sabilillah. Spanduk-spanduk itu lantas diletakkan di pakaian karyanya dibalut dengan sejumlah pakaian daur ulang lainnya.

"Saat ngambil itu ya takut, kan yang saya minta ngambil asisten saya. Mereka takut viral, kan ngambil kita enggak ngomong, tapi mau ngomong izin ya izin ke siapa, kita enggak tahu," tuturnya.

Perempuan yang juga mengajar desainer di La Salle College ini merangkai spanduk-spanduk itu dengan pakaian bekas yang dimilikinya, tali strap gitar bekas, hingga selotip police line. Tak ketinggalan foto-foto mengenai tragedi Kanjuruhan ia pampang di pakaian itu. Tiara melengkapi desain pakaiannya dengan topi bekas yang ditempeli police line.

"Jadi memang persiapannya enggak lama, tiga hari lombanya itu Sabtu. Waktu demo itu dapat ide, terus nyari foto-fotonya di medsos, bahan-bahan lainnya sudah ada ditambah spanduk. Karena ini enggak boleh dijahit jadi kita pakai cemiti besar untuk menempelkannya," katanya.

Memang awalnya pakaian itu diakui sempat ada pro dan kontra, bahkan dari internal pegawai dan asistennya sendiri. Tapi baginya dia hanya berniat baik membantu menyuarakan keadilan yang dituntut Aremania.Ā 

"Semua tercengang, sampai teman-teman desainer itu bilang gila kamu, enggak takut ta, asistenku bilang nanti kamu dianu Arema, terus saya bilang niat baik nanti akan dibalas baik, enggak apa-apa, memang agak nekat dari dulu," katanya.

"Mohon maaf kemarin belum izin saya pasang di baju saya di bagian belakang, saya pasang dari hasil teman-teman Arema. Makanya sampai asisten saya ada enggak berani pakai baju yang dipakai ngambil itu, takut viral katanya," katanya.

Saat hari H pelaksanaan fashion show-nya di Mal Ciputra Surabaya, Tiara tak menyangka pakaiannya mendapat sambutan luar biasa. Di awal bahkan pegawainya sempat takut sebab fashion show itu diadakan di Surabaya, yang notabene merupakan markas Persebaya Surabaya rival Arema, tim yang juga mengalahkan Arema FC sebelum tragedi Kanjuruhan terjadi. Bahkan dari dua desain pakaian yang disiapkan Tiara, fashion bernuansa tragedi Kanjuruhan berhasil meraih sukses.

"Waktu show itu pegawai saya sembunyi hilang semua, takut katanya, takut dihujat, tapi ternyata responnya baik, justru yang dapat atensi luar biasa itu, banyak yang simpatik juga, dapat tepuk tangan se-Ciputra," katanya.

Perjuangan perempuan yang menggeluti desainer empat tahun ini tak sia - sia, dengan persiapan mepet ia berhasil meraih juara kedua dari 50 peserta desainer dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan ia juga mendapat respon positif dari Aremania dan publik Malang dan viral di media sosial, karena turut membantu menyuarakan aspirasi masyarakat.

"Momen-momennya pas, kata-katanya juga pas menyentuh, quotesnya dari Malang untuk Malang. Justru karyaku yang satunya nggak juara, aku ikut dua, yang warna merah kalah, yang menang malah ini," ujarnya.

Ke depan pakaian ini rencananya ditampilkan di workshop pribadinya Mutiara Syarif di Jalan Mayjen M. Wiyono selama dua hingga tiga pekan. Jika nanti ada yang berminat membelinya ia pun merelakan pakaian itu dan hasilnya akan didonasikan untuk para korban tragedi Kanjuruhan.

"Sebenarnya kalau mau dipajang di Arema juga boleh, tak kasihkan. Tapi kalau nanti dilelang ya enggak apa-apa, nanti hasilnya saya donasikan, ini pokoknya saya pajang (tampilkan) di sini dulu dua sampai tiga minggu dulu," katanya.

Editor : Hadits Abdillah