20 Contoh Puisi tentang Cinta untuk Pasangan, Bikin Hubungan Makin Harmonis

Iqbal Widiarko
Kamis 12 Mei 2022 17:55 WIB
20 Contoh Puisi tentang Cinta untuk Pasangan, Bikin Hubungan Makin Harmonis
Contoh puisi tentang cinta romantis bisa menjadi ungkapan kepada pasangan. (Foto celebrities.id/Pixabay)

JAKARTA, celebrities.id - Contoh puisi tentang cinta romantis merupakan bahasa dari cinta. Puisi cinta bisa menjadi salah satu cara manis jika kamu ingin mengungkapkan perasaan lewat sajak indah untuk pasanganmu. Membuat puisi cinta tentu bisa menjadi hal sulit karena dibutuhkan waktu dan kreativitas dalam merangkai kata.

Jangan takut untuk mencintai. Itu adalah hal lumrah. Puisi cinta, romantis, rindu, sedih dan cinta dalam diam bisa kamu ungkapan dalam bentuk aksara. Puisi cinta bisa termasuk ke dalam beberapa jenis puisi seperti balada, romansa, maupun elegi.

Dilansir dari berbagai sumber, celebrities.id, Kamis (12/5/2022) telah merangkum contoh puisi tentang cinta, sebagai berikut.

Contoh Puisi tentang Cinta

1. CINTA JAUH di PULAU

(oleh Chairil Anwar)

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar ingin membantu, laut terang, tapi terasaaku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.

”Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri

2. AKU

(oleh Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

3. DEAR, TUAN

(oleh Fanny Alisya Putri)

Dear Tuan,
Teruntuk yang tak kasat rasa,
bunga ini ku persembahkan kepada dia yang tahu lembah.
Kepadamu, Marah namun tak tahu kemarin, indah, tapi tak tahu kenangan.

Tuan, Maaf.
Asaku terlalu lihai menjelma menjadi buas.
Ingin menggapai hati, tapi tak tahu diam, tak tahu diri, tak tahu sakit.
Wahai, Tuan?
Jiwa ku ini tak tahu siapaku, atau hanya kau yang tak tahu kita?

4. HILANG

(oleh Fanny Alisya Putri)

Jika hilang membuat hati manusia musnah
maka kenapa ada kata”hilang” dimuka bumi
Jika rasa itu yang paling mengganggu pemikiran manusia
kenapa Tuhan menghadirkan manusia untuk mengingatkan bahwa kata “hilang” akan selalu jadi nyata.

Terus menerus berarti tidak ada kata “kembali”
karena hilang hakikatnya sudah mati atau tidak pernah akan tergantikan.
Selama 10 tahun, wajah itu takkan pernah “hilang”.
Ya kataku tapi tidak kata Allah.

Dia yang ku kuatkan dalam pengharapanku
hilang karena aku yang mengundangnya datang tanpa pamit.
Akulah yang membuat skenario itu sehingga aku pula lah yang “hilang”.
Mengapa? Aku salah? Tidak, tapi waktu.

Bukan, yang salah itu aku.
Aku yang mematikan akalku untuk mencintainya!
Pantai, perahu, masjid raya, jeruk, mall,
belang padang, sabang,terminal, langkah murah untuk mengemis.
“Haha.. mari tertawakan rasa sakitku”

Kau mengerti apa yang kusebutkan tadi?
Kau tau itu apa? Tidak apa-apa karena sudah “hilang”
iya, aku bilang sudah “hilang
dengan kata maaf jangan berharap untuk dikembalikan”
Karena yang sudah hilang akan selalu tidak bertempat.

5. TERLANJUR

(oleh Fanny Alisya Putri)

Terpaut pada cinta yang tak halal membuatnya lupa diri,
ia menoleh pria yang berkata tak meninggalkan
namun beraksi menjadi seorang bajingan.
Ia yang kau temani hingga malam terlelap,

membuat kau melupakan waktu, meruntuhkan imanmu.
Terputar kembali waktu di antara gedung itu, terjebak.
Ia memasuki hidupmu yang tertuduh bersalah dan dialah korbannya.

6. CUKUP, TAK PERLU MENOLEH

(oleh Fanny Alisya Putri)

Keesokan harinya, ia tertawa layaknya sampah,
terhadap perasaan yang kian menggebu.
"Tunggu aku, ku jemput kau di stasiun" berlagak gagah,

lalu berbalik arah
dan meludah kearahmu kemudian berkata "Terimakasih,
untuk malam-malam yang tak lebih dari sekedar lelucon untukku
"pengharapan yang kau lukis sendiri,

membuatmu meringis, kesakitan
dan terhanyut sampai kau kehilangan dirimu.
Mati mendarah, karena kau tahu,
kau sudah berhasil dimatikan oleh manusia-manusia tak berotak
yang kau kenal jauh sebelum dia.

 

1
/
3