Kumpulan Contoh Teks Cerita Sejarah dan Struktur Lengkap

Iqbal Widiarko
Jumat 29 Juli 2022 12:06 WIB
Kumpulan Contoh Teks Cerita Sejarah dan Struktur Lengkap
Kumpulan contoh teks cerita sejarah. (Foto: Pixabay)

JAKARTA, celebrities.id - Kumpulan contoh teks cerita sejarah dapat menjadi tambahan wawasan bermanfaat tentang jenis penulisan teks cerita yang lebih terstruktur dan beragam.

Dalam teks cerita sejarah, umumnya terdiri dari tiga struktur pembangunnya, yakni orientasi, urutan peristiwa dan reorientasi.

Teks cerita sejarah mengandung peristiwa atau kejadian yang disusun sesuai fakta yang ada, baik yang benar-benar terjadi maupun cerita rakyat yang dianggap pernah terjadi layaknya legenda.

Teks ini juga menceritakan tentang asal-usul atau latar belakang terjadinya sesuatu hal yang mempunyai nilai di masa lalu dan masa sekarang serta bersifat naratif atau deskriptif.

Dilansir dari berbagai sumber, celebrities.id, Jumat (29/7/2022) telah merangkum contoh teks cerita sejarah, sebagai berikut.

Mengenal Teks Cerita Sejarah

Merujuk pada e-Modul Bahasa Indonesia Kelas XII tentang Teks Cerita Sejarah (2019) oleh Supatmi dkk, teks cerita sejarah merupakan teks yang menerangkan dan menceritakan tentang fakta dan kejadian masa lalu dan menjadi latar belakang terjadinya sesuatu yang mempunyai nilai sejarah.

Teks cerita sejarah umumnya ditulis secara kronologis dan merupakan bentuk teks cerita ulang. Memiliki struktur teks seperti orientasi, urutan peristiwa dan reorientasi. Teks jenis ini juga kerap memakai konjungsi temporal (kata penghubung yang berhubungan dengan waktu) dan isi cerita sebagian besar berupa fakta.

Contoh Teks Cerita Sejarah

1. Kemelut di Majapahit

- Orientasi

Setelah Raden Wijaya berhasil menjadi Raja Majapahit pertama bergelar Kertarajasa Jayawardhana, beliau tidak melupakan jasa-jasa para senopati (perwira) yang setia dan banyak membantunya semenjak dahulu itu membagi-bagikan pangkat kepada mereka. Ronggo Lawe diangkat menjadi adipati di Tuban clan yang lain-lain pun diberi pangkat pula. Dan hubungan antara junjungan ini dengan para pembantunya, sejak perjuangan pertama sampai Raden Wijaya menjadi raja, amatlah erat dan baik. Akan tetapi, guncangan pertama yang memengaruhi hubungan ini adalah ketika Sang Prabu telah menikah dengan empat putri mendiang Raja Kertanegara, telah menikah lagi dengan seorang putri dari Melayu. Sebelum putri dari tanah Malayu ini menjadi istrinya yang kelima, Sang Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah mengawini semua putri mendiang Raja Kertanegara. Hal ini dilakukannya karena beliau tidak menghendaki adanya dendam dan perebutan kekuasaan kelak. Keempat orang puteri itu adalah Dyah Tribunan yang menjadi permaisuri, yang kedua adalah Dyah Nara Indra Duhita, ketiga adalah Dyah Jaya Inderadewi, clan yang juga disebut Retno Sutawan atau Rajapatni yang berarti "terkasih" karena memang putri bungsu dari mendiang Kertanegara ini menjadi istri yang paling dikasihinya. Dyah Gayatri yang bungsu ini memang cantik jelita seperti seorang dewi kahyangan, terkenal di seluruh negeri dan kecantikannya dipuja-puja oleh para sastrawan di masa itu. Akan tetapi, datanglah pasukan yang beberapa tahun lalu diutus oleh mendiang Sang Prabu Kertanegara ke negeri Malayu.

- Urutan Peristiwa

Pasukan ini dinamakan pasukan Pamalayu yang dipimpin oleh seorang senopati perkasa bernama Kebo Anabrang atau juga Mahisa Anabrang, nama yang diberikan oleh Sang Prabu mengingat akan tugasnya menyeberang (anabrang) ke negeri Malayu. Pasukan ekspedisi yang berhasil baik ini membawa pulang pula dua orang putri bersaudara. Putri yang kedua, yaitu yang muda bernama Dara Petak, Sang Prabu Kertarajasa terpikat hatinya oleh kecantikan sang putri ini, maka diambillah Dyah Dara Petak menjadi istrinya yang kelima. Segera ternyata bahwa Dara Petak menjadi saingan yang paling kuat dari Dyah Gayatri, karena Dara Petak memang cantik jelita clan pandai membawa diri. Sang Prabu sangat mencintai istri termuda ini yang setelah diperistri oleh Sang Baginda, lalu diberi nama Sri Indraswari. Terjadilah persaingan di antara para istri ini, yang tentu saja dilakukan secara diam-diam namun cukup seru, persaingan dalam memperebutkan cinta kasih dan perhatian Sri Baginda yang tentu saja akan mengangkat derajat dan kekuasaan masing-masing. Kalau Sang Prabu sendiri kurang menyadari akan persaingan ini, pengaruh persaingan itu terasa benar oleh para senopati clan mulailah terjadi perpecahan diam-diam di antara mereka sebagai pihak yang bercondong kepada Dyah Gayatri keturunan mendiang Sang Prabu Kertanegara, clan kepada Dara Petak keturunan Malayu. Tentu saja Ronggo Lawe, sebagai seorang yang amat setia sejak zaman Prabu Kertanegara, berpihak kepada Dyah Gayatri. Namun, karena segan kepada Sang Prabu Kertarajasa yang bijaksana, persaingan clan kebencian yang dilakukan secara diam-diam itu tidak sampai menjalar menjadi permusuhan terbuka. Kiranya tidak ada terjadi hal-hal yang lebih hebat sebagai akibat masuknya Dara Petak ke dalam kehidupan Sang Prabu, sekiranya tidak terjadi hal yang membakar hati Ronggo Lawe, yaitu pengangkatan patih hamengku bumi, yaitu Patih Kerajaan Majapahit.

- Reorientasi

Ketika mendengar berita ini dia sedang makan, seperti biasa dilayani oleh kedua orang istrinya yang setia, yaitu Dewi Mertorogo clan Tirtowati. Mendengar berita itu dari seorang penyelidik yang datang menghadap pada waktu sang adipati sedang makan, Ronggo Lawe marah bukan main. Nasi yang sudah dikepalnya itu dibanting ke atas lantai clan karena dalam kemarahan tadi sang adipati menggunakan aji kedigdayaannya, maka nasi sekepal itu amblas ke dalam lantai.
Kemudian terdengar bunyi berkerotok dan ujung meja diremasnya menjadi hancur. "Kakangmas adipati, harap Paduka tenang;' Dewi Mertorogo menghibur suaminya. "Ingatlah, Kakangmas Adipati, sungguh merupakan hal yang kurang baik mengembalikan berkah ibu pertiwi secara itu:' Tirtowati juga memperingatkan karena melempar nasi ke atas lantai seperti itu penghinaan terhadap Dewi Sri clan dapat menjadi kualat. Akan tetapi, Adipati Ronggo Lawe bangkit berdiri, membiarkan kedua tangannya dicuci oleh kedua orang istrinya yang berusaha menghiburnya. ''Aku hams pergi sekarang juga!" katanya."Pengawal lekas suruh persiapkan si Mego Lamat di depan! Aku akan berangkat ke Majapahit sekarang juga!" Mego Lamat adalah satu di antara kuda-kuda kesayangan Adipati Ronggo Lawe, seekor kuda yang amat indah clan kuat, warna bulunya abu-abu muda. Semua cegahan kedua istrinya sama sekali tidak didengarkan oleh adipati yang sedang marah itu.
(Sumber: Kemendikbud, Modul Informasi Teks Cerita Sejarah Bahasa Indonesia Kelas XII)

 

1
/
3