16 Contoh Tembang Pocung dan Artinya

Iqbal Widiarko
Rabu 03 Agustus 2022 15:07 WIB
16 Contoh Tembang Pocung dan Artinya
Contoh tembang pocung dan artinya. (Foto: Freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Contoh tembang pocung dan artinya bisa menambah wawasan kamu terkait jenis tembang-tembang Jawa yang termasuk dalam tembang macapat. 

Kata pocung berasal dari kata ‘pocong’ yang menggambarkan kondisi seseorang yang telah meninggal.

Kelak manusia akan dibungkus kain kafan atau dipocong sebelum dikuburkan. Tembang pocung memiliki filosofi yang mendalam menunjukkan adanya ritual untuk melepaskan kepergian seseorang pada upacara pemakaman.

Tembang macapat pocung mempunyai watak jenaka, berisi pesan sosial kehidupan dan hal-hal unik lainnya. Tembang ini juga kerap digunakan untuk memberi nasihat, berisi berbagai ajaran untuk manusia supaya mampu membawa diri dalam mengarungi kehidupan secara harmonis lahir dan batin.

Dilansir dari berbagai sumber, celebrities.id, Rabu (3/8/2022) telah merangkum contoh tembang pocung dan artinya, sebagai berikut.

Mengenal Tembang Pocung

Merujuk pada buku pembelajaran tingkat SMP bertajuk "Macapat Tembang Jawa, Indah dan Kaya Makna (2018) oleh Zahra Haidar, tembang macapat jenis pucung atau pocung digambarkan sebagai tahapan terakhir dalam kehidupan manusia, yakni kehidupan di alam baka. Kata pucung, pocung atau pocong dimaknai sebagai orang meninggal yang telah berada di alam kubur.

Manusia akan kembali pada Penciptanya untuk mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatannya ketika di dunia. Pucung atau pocung juga berasal dari kata kudhuping gegodhongan ‘kuncup dedaunan’ yang tampak segar. Tembang pocung umumnya mengisahkan hal-hal yang lucu atau berisi tebak-tebakan untuk menghibur hati.

Walaupun bersifat jenaka, isi pesan tembang ini mengandung nasihat bijak untuk menyelaraskan kehidupan antara manusia, alam, lingkungan, dan Tuhan. Terdiri dari 4 baris dengan susunan I-12-u; II-6-a; III-8-i; IV-12-a.

Contoh Tembang Pocung dan Artinya

1. Tema Pendidikan

Ngelmu iku kalakone kanthi laku,
lekase lawan kas,
tegese kas nyantosani,
setya budya pangekese dur angkara.

-Artinya:
Ilmu itu dapat diperoleh lewat proses,
diawali dengan kemauan,
artinya kemauan yang sungguh-sungguh,
taat pada kesucian hati menjadi penakluk keangkuhan
(Sumber: Kemendikbud)

2. Tema Kemanusiaan

Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun,
semune ngaksama,
sasamane bangsa sisip,
sarwa sareh saking mardi martatama.

-Artinya:
Berbeda memang dengan yang telah sering menyepi,
tampak sifat pemaaf,
sesama manusia yang penuh salah,
selalu sabar dengan jalan mengutamakan rendah hati.
(Sumber: Kemendikbud)

3. Tema Kehidupan

Angkara gung neng angga anggung gumulung,
gegolonganira,
Triloka lekeri kongsi,
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

-Artinya:
Kejahatan besar di dalam tubuh kuat menggelora,
menyatu dengan diri,
menjangkau hingga tiga dunia,
apabila dibiarkan akan berkembang menjadi bencana.
(Sumber: Kemendikbud)

4. Tema Kehidupan

Taman limut durgameng tyas kang weh limput,
karem ing karamat,
karana karoban ing sih,
sihing sukma ngrebda saardi pengira.

-Artinya:
Dalam kabut kegelapan, angkara di hati yang selalu
menghalangi,
larut dalam kesucian,
karena tenggelam dalam kasih sayang,
kasih sayang di hati tumbuh berkembang sebesar
gunung
(Sumber: Kemendikbud)

 

1
/
3