Epidemiolog Ingatkan Kasus Omicron Bisa 2 Kali Lipat dari Delta, Puncak Kasus Diprediksi Maret

Dita Angga
Rabu 12 Januari 2022 08:16 WIB
Epidemiolog Ingatkan Kasus Omicron Bisa 2 Kali Lipat dari Delta, Puncak Kasus Diprediksi Maret
Update Kasus Omicron di Indonesia: Naik 68 Kasus, Total 136 Orang Positif. (Foto: celebrities.id/Freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Kasus Omicron di Tanah Air terus bertambah, meski berbagai upaya pencegahan dilakukan. Puncak kasus Covid-19 varian Omicron ini pun diprediksi bakal terjadi awal Februari atau Maret 2022. Bahkan, kenaikan kasus Omicron bisa dua kali lipat dari Delta.

Hingga Selasa (11/1/2022), jumlah kasus Omicron di tanah air mencapai 802 kasus.

"Dan ingat juga kita negara kepulauan. Jadi, mungkin Jawa Bali duluan nanti ada di Sumatera atau Sulawesi. Ini karakteristik geografi kita yang akan mewarnai pola kurva pandemi gelombang ketiga kita. Dan kapannya di Februari atau Maret ini menjadi prediksi paling kuat bisa mencapai kasus sebetulnya bisa lebih banyak dari Delta. Bisa dua kali dari Delta,” kata Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman saat dihubungi, Rabu (12/1/2021).

Namun, dia menyebut bahwa Indonesia memiliki keterbatasan dalam melakukan deteksi Omicron, sehingga kemungkinan besar kasus yang bakal terdeteksi hanya separuhnya saja.

“Tapi permasalahannya adalah kita terbatas kemampuan menemukan kasus-kasus infeksi ini. Sehingga kalau pun ini pemerintah hanya bisa menemukan ya setengah dari kasus dari puncaknya Delta kemarin. Itu karena keterbatasan deteksi yang dimiliki pemerintah. Kecuali ada peningkatan yang agresif dari testing. Dan itu agak sulit menurut saya,” ujarnya.

Dicky menekankan, kemampuan deteksi menjadi masalah. Menurutnya, berbicara varian Omicron tidak hanya soal gejala yang ringan dan rendahnya angka kematian yang rendah saja.

“Tapi ini bicara long Covid. Sehingga ketika itu tidak bisa kita deteksi, tidak bisa kita temukan cepat sehingga kasus-kasus kontak tidak bisa segera kita tempatkan dalam program isolasi karantina ini menjadi potensi beban atau PR di masa depan. Oleh karena itu harus menjadi perhatian bahwa penemuan kasus menjadi sangat penting,” katanya.

Editor : Endang Oktaviyanti