Francesco Bagnaia Ceritakan Kesulitan di Akademi VR46, Banyak Belajar dari Valentino Rossi

Ilham Sigit
Kamis 28 Juli 2022 07:37 WIB
Francesco Bagnaia Ceritakan Kesulitan di Akademi VR46, Banyak Belajar dari Valentino Rossi
Francesco Bagnaia ceritakan kesulitan di Akademi VR46, banyak belajar dari Valentino Rossi. (Foto: celebrities.id/Instagram @pecco63)

EMILIA ROMAGNA, celebrities.id - Pembalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia menceritakan masa-masa sulit kala dirinya menimba ilmu di Akademi VR46. Pembalap yang karib disapa Pecco itu mengatakan banyak belajar dari sang legenda MotoGP, Valentino Rossi. Terutama soal mengendalikan rasa frustrasi dan emosi.

Sebagaimana diketahui, Pecco mengalami musim yang sulit pada MotoGP 2022 ini. Meski berada di peringkat empat klasemen sementara, pembalap asal Italia itu mengalami serangkaian kecelakaan sehingga dirinya empat kali gagal finis dari 11 balapan terakhir.

Pecco kini baru saja merampungkan balapan World Ducati Week (WDW) 2022 untuk mengisi kegiatan di jeda paruh musim. Usai kembali dari kegiatannya, Pecco mengungkapkan kunci utama mengapa dirinya tetap tabah menghadapi ujian yang menimpa selama musim ini.

Sosok legend, Valentino Rossi disebut Pecco sebagai sosok penting yang membentuk mentalitasnya saat ini. Pembalap berusia 25 tahun itu mengatakan bahwa Rossi mengajarkannya bagaimana cara mengendalikan emosi dan rasa frustrasi ketika semua tidak berjalan sesuai keinginannya.

“Itu adalah sesuatu yang saya pelajari dari Vale, ketika saya marah, saya mengambil nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa frustrasi,” kata Pecco dikutip Motosan, Kamis (28/7/2022).

“Bertahun-tahun yang lalu, butuh berjam-jam untuk melakukannya. Sekarang bisa lebih cepat, tetapi tetap tidak mudah,” tuturnya.

Lebih lanjut, Pecco mengatakan bahwa menghabiskan waktu di akademi VR46 banyak memberikan pelajaran hidup yang amat berharga bagi dirinya. Dia menceritakan bagaimana sulit kehidupannya saat itu ketika tidak memiliki privilise seperti anak-anak seusianya.

“Datang ke akademi mengubah saya, saya berusia 16 tahun, tidak memiliki SIM, saya tidak memiliki orangtua untuk mengantar kesana-kesini, saya harus pergi berlatih ke gym atau berlatih di peternakan,” ucap Pecco.

“Saat itu, saya hanya anak kecil. Meski ingin menjadi pembalap tercepat, saya selalu tergoda untuk pergi keluar bersama teman-teman saya,” ujarnya lagi.

“Tapi, akademi membuat saya lebih berkembang. Berkat Valentino, saya menjadi lebih dewasa di semua level, saya mengerti apa hal yang terpenting bagi saya,” kata Pecco.

Editor : Lisvi Padlilah