Hasil Riset: Tawa Bayi Manusia Mirip Simpanse

Kevin Koopman
Sabtu 04 September 2021 01:01 WIB
Hasil Riset: Tawa Bayi Manusia Mirip Simpanse
Tawa bayi manusia mirip anak simpanse. (Foto: celebrities.id/Freepik)

LEIDEN, celebrities.id - Para ilmuwan menemukan fakta mengejutkan bahwa karakter suara tawa bayi manusia mirip dengan simpanse.

Sebuah studi yang dipublikasikan Biology Letters Journal mengemukakan karakter suara tawa bayi manusia perlahan berubah dan pola tawa nantinya mirip seperti orangtua mereka.

“Polanya terlihat dari bayi-bayi yang sangat mirip dengan lingkungan (primata) terdekat kita,” ujar associate professor bidang psikologi di Leiden University Belanda, Mariska Kret dilansir dari alarabiya.net, Jumat (3/9/2021).

Ketika seekor kera tertawa, mereka cenderung menghasilkan suara yang keras di awal setelah mereka menarik napas dan juga saat mereka menghembuskan napas.

“Tipe suara kera lebih susah untuk dideskripsikan, tetapi terdengar suara seperti huh-ha-huh-ha,” ujar Kret.

Sementara tipikal manusia dewasa tertawa, dimulai ketika menarik napas dan mengeluarkan suara “ha-ha” dalam waktu yang singkat.  Lama-kelamaan suaranya menjadi pelan.

Hasil riset membuktikan bahwa pola tertawa pada bayi yang berusia di bawah 18 bulan lebih terdengar mirip seperti kera karena mereka tertawa ketika menarik dan menghembuskan napas.

Pengamat psikologi komparatif University of Portsmouth, Inggris Marina Davila-Ross  berargumen bahwa tawa pada bayi tampaknya tidak selalu mirip dengan semua spesies kera, tetapi yang terutama memiliki karakteristik evolusioner yang mirip dengan manusia, seperti simpanse dan bonobo.

“Tampaknya tawa-tawa tersebut memiliki alasan yang jelas pada bidang studi biologi,” ujar Ross.

Studi ini melibatkan pengumpulan audio dari bayi kisaran usia tiga sampai 18 bulan dan meminta kepada pendengar untuk menilai persentase tawa yang mereka hasilkan pada saat menarik dan menghembuskan napas. Mereka juga memasukkan rekaman suara tertawa dari lima manusia dewasa untuk memastikan tingkat akurasi dan kredibilitas yang lebih baik.

Editor : Dhita Seftiawan