Hati-Hati! Sindikat Lowongan Kerja Fiktif Luar Negeri Bergentayangan di Facebook, Korbannya Sudah Banyak

Inin Nastain
Senin 01 Agustus 2022 19:10 WIB
Hati-Hati! Sindikat Lowongan Kerja Fiktif Luar Negeri Bergentayangan di Facebook, Korbannya Sudah Banyak
Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia dihebohkan lowongan kerja fiktif di luar negeri. (Foto: TechCrunch)

JAKARTA, celebrities.id - Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia dihebohkan kasus penyekapan yang dialami puluhan WNI di salah satu perusahaan investasi bodong di Kamboja. Perkembangan media sosial dinilai memiliki peran dalam terjadinya kasus itu.

Ketua pusat kajian migrasi Migrant Care Anis Hidayah mengatakan, sejak April lalu Migrant Care menerima banyak laporan adanya korban investasi bodong. Mereka tersebar di beberapa negara di kawasan ASEAN.

 “Sejak April selama 2022, Migrant Care sebenarnya banyak sekali menerima laporan kasus teman-teman yang menjadi korban dengan modus investasi bodong di beberapa negara. Tidak hanya di Kamboja, tapi juga Filipina, Thailand dan negara-negara lain,” kata dia.

Dari hasil analisa Migrant Care, sebagian besar para korban terjerumus setelah mengetahui lowongan kerja dari media sosial, khususnya Facebook. Pelaku sendiri merupakan jaringan, baik yang ada di Indonesia maupun Kamboja.

“Mayoritas teman-teman yang berangkat, menjadi korban di Kamboja, mereka terjebak dalam sindikasi trafficking yang dilakukan oleh jaringan yang ada di Indonesia dan terkoneksi dengan jaringan yang ada di Kamboja melalui media sosial, yaitu Facebook.  Banyak sekali di Facebook lowongan-lowongan seperti ini,” kata dia.

“Selain Facebook, mereka juga secara intensif bekerja mendekati korban ke komunitas. Online dan offline, mereka secara intens berkomunikasi lewat messenger Facebook,” kata Anis.

Sayangnya, pemerintah belum melakukan counter attack terkait masifnya informasi lowongan kerja bodong itu. 

“Nyaris tidak ada counter dari pemerintah terkait lowongan-lowongan seperti ini. Jadi ini cukup gencar, tetapi narasi pembanding itu hampir tidak ada dari pemerintah,” kata dia.

Editor : Andre Purwanto