Ikan Paus Sperma Mati di Perairan Banyuwangi, Dokter Hewan Uji Sampel

Avirista Midaada
Kamis 04 Agustus 2022 07:55 WIB
Ikan Paus Sperma Mati di Perairan Banyuwangi, Dokter Hewan Uji Sampel
Ikan Paus Sperma terdampar di perairan Banyuwangi, dokter hewan lakukan uji sampel. (Foto: Avirista/MNC)

BANYUWANGI, celebrities.id - Sejumlah tenaga kesehatan dari Universitas Airlangga (Unair) dikerahkan untuk memeriksa paus sperma yang mati di perairan Banyuwangi. 

Total ada enam dokter dibantu sembilan asisten dosen melakukan proses nekropsi atau pemeriksaaan bangkai paus.

Pemeriksaan bangkai paus ini sendiri dilakukan sejak Selasa, 2 Agustus 2022. Bahkan, prosesnya masih berlangsung hingga saat ini, proses nekropsi sendiri dilakukan sebagai langkah investigasi medis untuk memastikan penyebab kematian paus tersebut. 

Seorang dokter hewan Aditya Yudhana menuturkan, pemeriksaan ini untuk memastikan kondisi terakhir paus sebelum akhirnya mati pada Senin, 1 Agustus 2022. 

"Ini merupakan permintaan dari BPSPL Denpasar Wilker Banyuwangi dan BKSDA Jatim," ucap Aditya, Kamis (4/8/2022).

Karena kematian paus lebih dari 24 jam, kata Aditya, pengambilan sampel bangkai paus tidak dilakukan secara menyeluruh. Hal ini disebabkan adanya pembusukan di organ dalam yang telah terjadi usai 24 jam masa kematian paus. Sehingga hanya diambil jaringan kulit bagian luar, sampai bagian daging. 

"Kita sepakati, kita ambil sampel yang memungkinkan untuk diperiksa. Jika organ dalam itu sudah busuk sehingga jika kita paksakan hasilnya juga tidak maksimal. Diambil dulu, masih kita awetkan dulu di lab," ujarnya.

Selanjutnya, kata Aditya, jaringan kulit dan daging itu bakal di uji DNA dan uji akumulasi serta polutan organik. Namun butuh proses lama untuk mendapatkan hasil pengujian tersebut, minimal selama 3 - 4 bulan. 

"Hasil uji lab sedikit banyak akan bisa mengungkap penyebab kematian. Kita analogikan kayak puzzle. Memang tidak utuh, tapi sudah muncul gambaran yang lebih utuh. Pencemaran organik di laut yang sekiranya membahayakan itu bisa terakumulasi di jaringan yang kita ambil itu," ujarnya.

Menurutnya, secara medis dari laporan yang diterimanya paus tersebut sudah mulai tidak bernafas sejak Senin (1/8) sore sekitar pukul 18.00 WIB. Hal ini dapat diartikan, tidak ada proses respirasi dari tubuh paus sehingga mamalia raksasa tersebut dinyatakan mati. 

"Sejak Selasa siang kita lihat pembusukan sudah berjalan. Tapi masih masuk kode dua atau baru mati. Nanti perlahan akan masuk ke kode tiga, mulai proses penimbunan gas, biasanya terlihat setelah kulit mengelupas," tuturnya.

 

1
/
2