Intip Museum Dirgantara Mandala di Yogyakarta, Ada Pesawat Pakai Mesin Harley Davidson

Icon CameraErfanto Linangkung
Jumat 26 Agustus 2022 15:46 WIB
Intip Museum Dirgantara Mandala di Yogyakarta, Ada Pesawat Pakai Mesin Harley Davidson
Museum Dirgantara Mandala di Yogyakarta. (Foto: Erfan Erlin/MNC)

YOGYAKARTA, celebrities.id - Jika ke Yogyakarta, ada baiknya mampir ke Museum Dirgantara Mandala milik TNI Angkatan Udara. Museum yang berada di Kompleks Lapangan Udara (Lanud) Adisutjipto kini telah bertransformasi menjadi destinasi yang sangat layak dikunjungi.

Kepala Museum Dirgantara Mandala, Kolonel Sus Yuto Nugroho mengatakan, berkunjung ke Museum Dirgantara Mandala tidak hanya melihat pesawatnya saja. Tetapi ketika berkunjung ke Museum ini juga bisa   mendengarkan cerita-cerita yang menarik berkaitan dengan sejarah penerbangan di Tanah Air, terutama penerbangan militer.

"Bagaimana pesawat itu bisa terbang? Bagaimana dulu pesawat itu terbang berperan dalam operasi militer tertentu. apa ini yang mereka dengar," ujar Yuto Nugroho, Jumat (26/8/2022).

Harapannya dengan mendengar cerita tersebut maka masyarakat dapat mengetahui sejarah TNI Angkatan Udara. Di mana peran TNI adalah dalam menjaga wilayah dirgantara Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Museum ini menyimpan sejumlah foto tokoh-tokoh sejarah serta diorama peristiwa sejarah Angkatan Udara Indonesia. Sejumlah pesawat tempur dan replikanya juga terdapat di museum ini yang kebanyakan berasal dari masa Perang Dunia II dan perjuangan kemerdekaan.

Koleksi tersebut diantaranya adalah Pesawat Ki-43 buatan Jepang, Pesawat PBY-5A (Catalina), Replika pesawat WEL-I RI-X (pesawat pertama hasil produksi Indonesia), Pesawat A6M5 Zero Sen buatan Jepang, Pesawat pembom B-25 Mitchell, B-26 Invader, TU-16 Badger.

Kemudian Helikopter Hillier 360 buatan AS. Pesawat P-51 Mustang buatan AS, Pesawat KY51 Cureng buatan Jepang, Replika pesawat Glider Kampret buatan Indonesia, Pesawat TS-8 Dies buatan AS, pesawat Lavochkin La-11, Mig-15, MiG-17 dan MiG-21 buatan Russia hingga Rudal SA-758.

Museum Pusat TNI-AU Dirgantara Mandala juga memiliki koleksi berupa Prototype Bom sejumlah 9 buah buatan Dislitbangau yang bekerjasama dengan PT. Pindad dan PT. Sari Bahari. 

Bom-bom tersebut merupakan bom latih (BLA/BLP) dan bom tajam (BT) yang memiliki daya ledak tinggi (high explosive), sebagai senjata Pesawat Sukhoi Su-30, F-16, F-5, Sky Hawk, Super Tucano dil. 

"Helikopter Hillier 360 ini sangat menarik bagi saya," ucap dia.

Helikopter tersebut menarik karena pertama kali yang menggunakan adalah Presiden Soekarno. Presiden Soekarno berkeliling udara di atas Jakarta. Bahkan ada cerita beliau membuang bunga Semanggi yang kini tempat bunga tersebut jatuh dibangun Gedung DPR RI.

Kemudian Pesawat KY51 Cureng buatan Jepang, pesawat ini sebenarnya pesawat curian dari Jepang yang kemudian diperbaiki. Usai diperbaiki, pada tanggal 26 Oktober 1945 atau pada keesokan harinya pesawat Cureng ini berhasil diterbangkan oleh Adi Sucipto di atas angkasa Yogyakarta  selama 15 menit.

"Padahal pada waktu itu pada saat itu di alun-alun Yogyakarta ada rapat pemuda dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda. Ketika mereka melihat pesawat itu terbang pesawat cureng yang biasanya diterbangkan oleh orang Jepang ini diterbang orang Indonesia berbendera merah putih timbul semangat sehingga mereka ingin ikut bergabung dengan angkatan udara," ujarnya.

Kemudian ada pesawat WEL-I RI-X, pesawat ini merupakan pesawat pertama hasil produksi Indonesia. Pesawat ini menggunakan mesin dari Sepeda Motor Harley Davidson dan mampu terbang 

Yuto menambahkan, Museum Dirgantara Mandala ini dibangun tahun 1979. Museum ini mengusung konsep edutainment edutainment yaitu edukasi dan entertainment. Artinya bahwa Museum Dirgantara Mandala tidak hanya sebagai media untuk pendidikan tetapi juga hiburan.

Museum ini cukup diminati masyarakat karena jumlah kunjungannya mencapai 50 ribu perbulan. Tidak hanya wisatawan dari seputaran DIY saja yang hadir tetapi banyak yang berasal dari luar Jawa. Mereka datang untuk menyaksikan 61 pesawat koleksi museum ini.

"Museum yang berada di area tanah 9000 meter persegi dengan bangunan seluas  5000 meter persegi ini didirikan untuk membangkitkan semangat nasionalisme kita," tuturnya.

Editor : Johan Sompotan