Kelelahan Tak Kunjung Hilang usai Sembuh dari Covid-19? Begini Cara Mengatasinya

Muhammad Sukardi
Sabtu 27 November 2021 11:11 WIB
Kelelahan Tak Kunjung Hilang usai Sembuh dari Covid-19? Begini Cara Mengatasinya
Kelelahan Tak Kunjung Hilang usai Sembuh dari Covid-19? Begini Cara Mengatasinya. (Foto: Freepik.com)

JAKARTA, celebrties.id - Pasien Covid-19 yang sudah sembuh pada beberapa kasus tetap mengalami gejala yang tak hilang, salah satunya fatigue atau kelelahan. Ini termasuk dalam masalah Long Covid-19.

Long Covid-19 atau Post-Covid-19 Syndrome sendiri adalah kumpulan gejala, tanda, dan parameter klinis yang masih dirasakan pasien lebih dari 2 minggu sesudah terpapar Covid-19. Artinya, gejala tidak membaik seperti sebelum sakit.

Menurut data RS Pondok Indah, ada 5 gejala Long Covid-19 yang sering dialami penyintas, yaitu:

1. Kelelahan atau fatigue (58%)

2. Sakit kepala (44%)

3. Gangguan fokus (27%)

4. Rambut rontok (25%)

5. Sesak napas (24%)

"Ada gejala lain dari Long Covid-19 seperti batuk, perasaan tidak nyaman di dada, gangguan kardiovaskular seperti aritmia atau miokarditis, masalah neurologis seperti demensia, depresi, gangguan kecemasan, attention disorder, atau obsessive compulsive disorders," ujar Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah, dr Hikmat Pramukti, Sp.PD, dalam keterangan resmi yang diterima MNC Portal, Sabtu (27/11/2021).

Dari data di atas, diketahui bahwa kelelahan sebagai gejala Long Covid-19 paling banyak dilaporkan. Beberapa studi menyatakan keluhan ini masih dirasakan penyintas bahkan setelah 100 hari sejak terpapar Covid-19.

Pada pasien yang sempat mengalami kondisi gangguan paru berat saat terkena Covid-19, kata dr Hikmat, seperti acute respiratory distress syndrome (ARDS), dua pertiga dari mereka merasakan keluhan fatigue yang signifikan setelah setahun terkena Covid-19.

"Keluhan yang dirasakan sangat mirip dengan sindroma chronic fatigue atau kelelahan kronis, yakni terdiri dari kelelahan yang menjadikan tubuh tidak berdaya, nyeri, mengalami disabilitas neurokognitif, gangguan tidur, gejala disfungsi otonom, serta perburukan kondisi fisik dan kognitif," ujarnya.

 

1
/
2