Kisah Cinta Nabi Muhammad dan Aisyah, Setia hingga Maut Memisahkan

Laras Dwi Sasmita
Sabtu 11 Juni 2022 10:02 WIB
Kisah Cinta Nabi Muhammad dan Aisyah, Setia hingga Maut Memisahkan
Kisah cinta Nabi Muhammad dan Aisyah. (Foto: celebrities.id/Freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Kisah cinta Nabi Muhammad dan Aisyah memang selalu menarik untuk disimak. Terlebih Aisyah binti Abu Bakar merupakan salah satu istri Nabi Muhammad SAW yang paling dikenal umat muslim.Ā 

Melansir berbagai sumber, Sabtu (11/6/2022), Aisyah binti Abu Bakar merupakan satu-satunya istri Nabi yang dinikahi dalam keadaan masih gadis. Dalam menjalani rumah tangganya Nabi Muhammad SAW, Aisyah menjadi suri teladan terbaik bagi umat Islam karena penuh ketakwaan dan keromantisan.Ā 

Berikut kisah cinta Nabi Muhammad dan AisyahĀ 

1. PerkenalanĀ 

Ketika istrinya Khadijah meninggal dunia, Rasulullah merasa sangat sedih. Di tengah kesedihanya, beliau kerap mengunjungi rumah sahabat-sahabatnya, termasuk Abu Bakar Ash-Shiddiq.Ā 

Sejak itulah beliau mengenal Aisyah sebagai putri dari Abu Bakar sahabatnya. Hingga pada akhirnya Rasulullah menikahi Aisyah atas petunjuk Allah SWT. Ibnu Abu Mulaikah menyatakan bahwa Aisyah RA berkata, Jibril datang kepada Nabi SAW (dalam mimpi) dengan membawa gambarnya dalam sepotong kain sutra hijau seraya berkata, “Inilah istrimu di dunia dan akhirat.” (HR. Tirmidzi)

2. Mendapat Wahyu dari Allah SWT

Mimpi itu dialami Rasulullah selama tiga malam hingga pada akhirnya beliau mengutus Khaulah binti Hakim bin Al-Auqash, istri Utsman bin Mazh’un, untuk datang ke rumah Abu Bakar dan meminta putrinya menjadi istri beliau.Ā 
Menurut salah satu riwayat, kala itu Aisyah baru menginjak usia enam tahun. Ā Namun, keduanya dikatakan baru tinggal serumah dan menjalani biduk rumah tangga ketika usia Aisyah menginjak sembilan tahun atau tiga tahun setelah pernikahan keduanya digelar. Tepatnya setelah peristiwa Perang Badar.

3. Rumah tangga romantisĀ 

Rasulullah SAW dikenal sebagai yang baik dan tawadhu terhadap istri-istrinya. Beliau juga dikenal sebagai seorang yang romantis dan lembut kepada istrinya termasuk Aisyah.Ā 

Kemesraan ini tentunya melibihi kemesraan makan sepiring berdua. Hal ini diriwayatkan oleh Aisyah RA. Dia berkata: “Terkadang Rasulullah SAW disuguhkan sebuah wadah (air) kepadanya, kemudian aku minum dari wadah itu sedangkan aku dalam keadaan haid.

Lantas Rasulullah SAW mengambil wadah tersebut dan meletakkan mulutnya di bekas tempat minumku. Terkadang aku mengambil tulang (yang ada sedikit dagingnya) kemudian memakan bagian darinya, lantas Rasulullah SAW mengambilnya dan meletakkan mulutnya di bekas mulutku.” (HR Ahmad).

Selain itu, Nabi Muhammad juga mempunyai panggilan khusus untuk Aisyah. Rasulullah SAW memanggil Aisyah RA dengan panggilan Humaira’ yang artinya adalah putih kemerah-merahan. Qadhi Iyadh menyebutkan dalam Masyariqul Anwar: “Perkataan beliau kepada Aisyah ‘Ya Humaira’ adalah bentuk tasghir (panggilan kecil) kasih sayang dan cinta.” (juz I, halaman 702).

4. Menenangkan Amarah dengan Cara Unik

Sudah selayaknya pasangan suami istri memiliki perbedaan pendapat dan dapat mengatasinya dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar perbedaan itu tidak memicu amaran dan berakhir menjadi konflik. Hal ini pernah dialami oleh Nabi Muhammad saat melihat Siti Aisyah marah.

Ibnus Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah, meriyawatkan hadis dari Aisyah: “Ketika Aisyah marah, maka Nabi SAW mencubit hidungnya dan berkata, “Wahai ‘Uwaisy (panggilan kecil Aisyah), katakanlah,‘Ya Allah, Tuhan Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah kemarahan di hatiku dan selamatkanlah aku dari fitnah yang menyesatkan’.”

5. Hanya Menikah Sekali

Kisah romantis Nabi Muhammad dan Siti Aisyah bukan hanya terjadi saat mereka hidup. Dicatatkan sebagai kisah cinta yang sejati, Aisyah tidak pernah menikah lagi setelah Rasulullah SAW meninggal dunia.

Mengingat banyaknya momen-momen indah yang pernah mereka lalui bersama, Aisyah merasakan rasa duka yang begitu mendalam karena kehilangan. Bagaimana tidak, sosok yang begitu dicintainya itu meninggal dalam pangkuannya.

Editor : Endang Oktaviyanti