Malang Gunakan Pembangkit Listrik Hybrid, Dimanfaatkan Tempat Wisata 

Avirista Midaada
Selasa 20 September 2022 08:56 WIB
Malang Gunakan Pembangkit Listrik Hybrid, Dimanfaatkan Tempat Wisata 
Pembangkit listrik hybrid pertama di Indonesia, dilakukan di tempat wisata yang ada di Malang. (Foto: Avirista/MNC)

MALANG, celebrities.id - Sulitnya akses listrik di sejumlah tempat wisata air terjun yang dikelola Perhutani Malang Raya membuat menyiapkan sumber energi alternatif. Energi alternatif berupa pembangkit listrik tenaga hybrid, yakni air dan tenaga surya atau sinar matahari menjadi pilihan.

Pengembangan energi alternatif di tiga lokasi wisata yakni Coban Jahe, Coban Tarzan, dan Coban Talun ini sendiri menggandeng perguruan tinggi Politeknik Negeri Malang (Polinema). Penyediaan akses listrik di sejumlah tempat wisata dimulai sejak 2018 hingga 2022 ini secara bertahap.

Ketua tim riset tenaga listrik Polinema Mohammad Noor Hidayat mengungkapkan, pemilihan pembangkit listrik tenaga hybrid dengan memadukan dua sumber energi menjadi bagian dari bentuk pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat. Dipilihnya dua sumber energi yakni air dan tenaga surya atau dari cahaya matahari disesuaikan alam dari tempat wisata itu sendiri.

"Kalau pagi sampai siang menggunakan solar cell tetap bisa operasi, kalau air karena di sana banyak air jadi kita manfaatkan untuk sumber energi. Jadi ada pengontrolnya yang disimpan di baterai, yang ngatur jadi arus mengalir ke generatornya. Kalau untuk hybrid ini memang riset kami baru pertama (di Indonesia)," kata Noor Hidayat ditemui di Politeknik Negeri Malang, Selasa (20/9/2022).

Noor menambahkan tenaga pembangkit listrik alternatif ini menghasilkan 500 watt aliran listrik. Di mana energi tersebut cukup untuk menyalakan lampu, sarana charger handphone maupun laptop. Bahkan dengan alternatif dua sumber energi membuat nyala listrik lebih lama, karena tidak bergantung pada satu sumber saja.

Memang secara estimasi biaya tergolong mahal karena satu tenaga listrik hybrid saja membutuhkan setidaknya Rp 20 - 30 juta, berkaca pada pembangkit listrik dari angin dan panas bumi, dengan alokasi terbesar ada pada sarana prasarana tiang pancang pemasangnya.

"Kapasitasnya memang masih kecil, plus minus maksimal 500 watt. Tapi itu sangat bermanfaat untuk tempat-tempat wisata. Kalau dilihat dari keuntungan secara materi nggak ada, Rp 20 - 30 juta Itu hanya menghasilkan 300 - 500 Watt, kecil sekali makanya kami aplikasikan itu ke pengabdian masyarakat," tuturnya.

Selain sebagai bentuk pengabdian masyarakat, Noor mengaku pembangkit listrik tenaga hybrid ini juga dikembangkan sebagai laboratorium lapangan bagi mahasiswanya. Pasalnya, pada proses pengembangan dan penerapannya terdapat kurang lebih 23 mahasiswa yang dilibatkan di tempat wisata tersebut. 

"Mahasiswa bisa melihat kondisi riil pembangkit listrik meskipun skalanya kecil, tapi bisa dilihat dari sumber sampai ke pembangkitannya, sampai ke pengaturan beban. Total 40-an mahasiswa terlibat dalam kegiatan penelitian ini," ujarnya.

Anggota tim riset tenaga listrik Polinema Irwan Herwanto mengungkapkan, kerjasama antara Polinema dengan Perhutani Malang raya membuat pihaknya mengembangkan sumber energi listrik terbarukan di beberapa tempat wisata di Malang raya.

"Salah satu kendala wisata hutan itu jarang teraliri listrik oleh PLN, inovasi kami dari Polinema ini untuk mengembangkan wisata di daerah-daerah, sehingga  kalau di situ ada listrik, pengunjung akan tertarik untuk sekedar nge-charge handphone," ucap Irwan Herwanto.

 

1
/
2