Marak Kebocoran Data, Pakar Keamanan Cyber Soroti Kurangnya Perhatian ke Cyber Security 

Selvianus Kopong
Sabtu 24 September 2022 00:26 WIB
Marak Kebocoran Data, Pakar Keamanan Cyber Soroti Kurangnya Perhatian ke Cyber Security 
Cyber Security Director BDO Indonesia, Harry Adinanta mengatakan kebanyakan organisasi-organisasi kurang memperhatikan cyber security. (Foto: Pixabay)

JAKARTA, celebrities.id - Perkara kebocoran data menjadi salah satu perhatian serius yang tengah diusut pemerintah. Sadar rentan dibobol, perusahan menyadari bahwa salah satu kekurangan ialah tenaga ahli keamanan cyber di tanah air.

Menanggapi permasalahan itu, Cyber Security Director BDO Indonesia, Harry Adinanta mengatakan kebanyakan organisasi-organisasi kurang memperhatikan cyber security. Akhirnya terjadinya kebocoran data ke publik. Sehingga, dia meminta semua pihak untuk mengatasi masalah digital tersebut.

"Banyak organisasi yang tidak paham dan akhirnya menomorduakan cyber security. Sekarang sudah saatnya kita berbenah siber," kata Harry Adinanta kepada awak media, di Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (23/9/2022).

Melihat perkara kebocoran data belakangan menyasar ke instansi pemerintahan, Harry mengimbau agar saatnya semua pihak mampu bekerjasama dengan para pakar. Untuk mengatasi permasalahan belakangan ini cukup menyita perhatian publik.

"Seclab BDO Indonesia hendak membuka pintu lebih luas untuk kolaborasi dan mengimbau pihak-pihak berwenang untuk merangkul dan bekerjasama dengan para pakar dalam mengatasi permasalahan keamanan digital," katanya.

Lebih lanjut, Keith Douglas Trippie, Senior Cyber Security and Data Privacy Advisor BDO menuturkan bahwa berkaca dari serangan-serangan hacker, kebanyakan menyasar pada perbankan. Justru menjadi salah satu kasus dan isu global, pastinya menjadi perhatian khusus bagi pemerintah.

Ditambah lagi serangan siber global diperkirakan mengalami kerugian cukup besar. Sehingga ia mengimbau pemerintah menguatkan di sistem framework siber yang jelas, agar tidak terjadi kebocoran data lagi dikemudian hari.

"Dampak kerugian akibat serangan siber global diperkirakan mencapai 2 kuintiliun Dolar AS di awal tahun 2022 kemarin, meningkat jauh dari 400 Miliar Dolar AS di tahun 2015," katanya.

"Kerugian dari ransomware saja bisa mencapai 265 Miliar Dollar AS di tahun 2031. Sudah saatnya perusaan di Indonesia memperkokoh ketahanan sibernya di tahun ini, dan mempersenjatai diri dengan framework keamanan siber yang jelas tidak menjadi korban berikutnya," katanya lagi.

Editor : Andre Purwanto