Mengenal Mati Syahid dalam Islam, Tidak Hanya Gugur di Medan Perang

Laras Dwi Sasmita
Kamis 23 Juni 2022 20:33 WIB
Mengenal Mati Syahid dalam Islam, Tidak Hanya Gugur di Medan Perang
Mati syahid bukan hanya bisa diraih oleh orang-orang yang meninggal saat berperang saja. (Ilustrasi: Freepik.com)

JAKARTA, celebrities.id - Setiap manusia sudah memiliki takdir masing-masing, termasuk takdir kematian. Ada orang-orang yang ditetapkan meninggal dalam keadaan syahid yang dihadiri oleh para malaikat. Ada pula, naudzubillah min dzalik, meninggal dalam keadaan suul khatimah. 

Dalam Islam, orang yang termasuk mati syahid adalah mereka yang mati saat berperang karena memperjuangkan kebenaran atau agama. Namun, mati syahid bukan hanya bisa diraih oleh orang-orang yang meninggal saat berperang saja.

Rasulullah SAW bersabda, ada lima kematian yang tergolong mati syahid. Salah satunya adalah yang berjuang ketika terkena wabah atau penyakit. Mereka termasuk sebagai mati syahid akhirat. Sementara, jenazahnya ditangani sebagaimana umumnya jenazah umat muslim lainnya, yakni dimandikan dan disalatkan sebelum dimakamkan.

"Orang yang kena wabah kemudian meninggal dan dia berjuang mengatasi sakitnya itu dalam keadaan beriman dan beramal saleh di dunianya tidak disebut syahid, tapi saat berpulang ke Allah. Tapi dia punya amalan syahid," kata Ustadz Adi Hidayat dikutip dari Kanal YouTube Audio Dakwah, Jumat (24/6/2022). 

Sementara, menurut Buya Yahya, derajat syahid paling tinggi jika tidak ada tuntutan berperang di medan perang adalah majlis talim. Seseorang yang meninggal dalam keadaan tengah menuntut ilmu di tempat untuk melaksanakan pengajaran agama Islam maka kematiannya akan disebut syahid. 

"Tentunya derajat syahidnya beda, masih unggul yang berjuang di medan pernag jika ada tuntutan. Kalau nggak ada tuntutan itu maka tingkat pertamanya adalah majlis talim. Makanya, kalau ada tawaran ke majlis talim jangan ditolak," katanya.

Editor : Andre Purwanto