Menikmati Keramahan Pedesaan Situs Kuno Tomboan Ngawonggo 

Avirista Midaada
Kamis 27 Mei 2021 09:18 WIB
Wisata Tomboan Ngawonggo buka setiap hari sejak pukul 07.00 - 17.00 WIB. (Foto: MPI/Avirista Midada)

MALANG, celebrities.id - Nuansa pedesaan menjadi dambaan pengunjung asal kota saat berkunjung ke destinasi wisata. Jika mampir ke Tomboan Ngawonggo, Kabupaten Malang, bukan hanya suasananya saja ala desa, tapi juga bisa mempelajari situs kuno peninggalan Hindu Kerajaan Medang.

Perpaduan kearifan lokal dengan situs sejarah yang didirikan pada 929 - 947 Masehi itu terlihat asri dan berudara sejuk. Lokasinya yang hanya butuh ditempuh 30 menit dari Kota Malang membuat situs ini cukup ramai dikunjungi wisatawan lokal.

Terletak di Dusun Nanasan RT 3 RW 4 Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, pengelolaan wisatanya sangat mengandalkan warga sekitar. Mereka menyajikan beragam kudapan yang bahannya berasal dari lingkungan sekitar, seperti nasi jagung, urap-urap, mendol, sayur lodeh, serawut, hingga cenil.

<a href='https://www.celebrities.id/tag/wisata-tomboan-ngawonggo'>Wisata Tomboan Ngawonggo</a> buka setiap hari sejak pukul 07.00 - 17.00 WIB. (Foto: MPI/Avirista Midada)

Tak ada bahan olahan makanan berbahan daging atau berasal dari hewan, yang disuguhkan ke wisatawan. Menariknya sajian ini tidak dijual oleh pengelola, para wisatawan yang datang boleh diperkenankan memberikan kontribusi seikhlasnya.

"Mengajarkan kesederhanaan kami yang mencontohkan ke para tamu di masa-masa seperti sekarang ini perekonomian orang-orang untuk makan saja agak sulit. Kami memberi contoh dengan tumbuhan yang murah meriah, kadang yang nggak beli bisa ngambil di kebun," ujar pengelola Tomboan Ngawonggo, Rahmat Yasin.

Dia juga menjelaskan, hal itu berkaitan dengan nama destinasi wisata tersebut yang diambil dari Bahasa Jawa, tomboan berarti tumbuhan dan nama situsnya Ngawonggo.

Wisata Tomboan Ngawonggo buka setiap hari sejak pukul 07.00 - 17.00 WIB. (Foto: MPI/Avirista Midada)

"Intinya kami di sini membuat sarana singgah, untuk menjamu para tamu di petirtaan, bukan warung, atau kafe, kami tidak jualan, kami memberi suguhan apa adanya yang ada di sini. Kalau berkenan berpartisipasi (membayar uang) monggo," tutur Yasin.

 

1
/
2