Miris! 24,5 Persen Balita di Solok Selatan Alami Stunting, Ini Penyebabnya

Jefli Oktari
Kamis 22 September 2022 21:48 WIB
Miris! 24,5 Persen Balita di Solok Selatan Alami Stunting, Ini Penyebabnya
Miris! 24,5 Persen Balita di Solok Selatan Alami Stunting, Ini Penyebabnya. (Foto:celebrities.id/Freepik.com)

SOLOK SELATAN, celebrities.id - Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Solok Selatan (Solsel) Erniati Khairunas menyebutkan bahwa berdasarkan data 2021, sebanyak 24,5 persen anak di bawah usia lima tahun (balita) di daerah tersebut mengalami stunting.

Hal itu diungkapkan Erniati Khairunas dalam kegiatan diseminasi (penyebarluasan) informasi 'Menuju Sumbar Zero Stunting' di aula kantor Bappeda Solsel, Kamis (22/9/2022).

"Stunting erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan gizi anak mulai dari masa kehamilan hingga usia lima tahun," kata Erniati.

Berdasarkan data 2021, lanjut dia, Solsel termasuk kabupaten dengan jumlah stunting terbanyak yakni sekitar 24,5 persen.

"Hal ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Butuh kolaborasi semua pihak dalam menurunkan angka stunting di Solsel," tuturnya.

TP PKK Solsel telah melakukan beberapa upaya untuk menurunkan angka stunting. Seperti memberikan bantuan pangan, pendampingan tenaga kesehatan terhadap anak yang mengalami stunting. Erniati menyadari bahwa untuk menciptakan pemimpin yang tangguh dan memiliki sumber daya manusia yang sehat serta berintelektual tinggi perlu diciptakan dari sekarang.

"Salah satu upaya yaitu dengan membentuk dan pemenuhan gizi anak mulai dari masa kehamilan hingga usia balita," ujarnya.

Dia memaparkan, stunting jangka panjang tidak hanya berdampak pada fisik namun juga kecerdasan anak atau tingkat intelektual.

"Jika berlarut-larut maka menciptakan generasi tangguh dimasa akan datang hanya akan menjadi angan-angan saja," katanya.

Menurutnya, balita Stunting akan gagal tumbuh fisik dan intelektual disebabkan kurang gizi. Plt Kepala Dinas Kesehatan Solsel, Pandewal menyebut bahwa anak balita pendek belum tentu stunting namun penderita stunting pasti pendek.

"Stunting merupakan masalah bersama bukan aib yang harus ditutupi karena dapat dicegah dan diobati. Orang pendek belum tentu stunting tapi orang stunting pasti pendek," ujarnya.

Pencegahan stunting dapat dimulai dari memperhatikan sanitasi atau jamban dan penggunaan air bersih terhadap keluarga.

"Penyebab bukan hanya soal gizi tetapi juga soal air bersih jamban keluarga kebersihan lingkungan," kata Erniati.

Kebersihan lingkungan cukup berperan dalam pencegahan stunting. Pasalnya, akses sanitasi baik dan konsumsi air bersih berdampak terhadap tingkat kesehatan balita. Dia menegaskan bahwa stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

Adapun penyebab multifaktor diantaranya soal air bersih, jamban keluarga, pendidikan, kesetaraan gender, kebersihan lingkungan serta faktor-faktor pembangunan ekonomi dan pembangunan manusia lainnya. Dampak stunting jangka pendek adalah gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik, dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme.

Sementara dampak jangka panjang dapat menurunnya kapasitas intelektual. Gangguan struktur dan fungsi saraf dan sel-sel otak yang bersifat permanen dan menyebabkan penurunan kemampuan menyerap pelajaran di usia sekolah yang akan berpengaruh pada produktivitasnya saat dewasa.

Editor : Leonardus Selwyn Kangsaputra