Nasib Keroncong, Musik Kesukaan Bung Karno yang Sempat Dilabeli PKI

Avirista Midaada
Senin 11 Oktober 2021 08:16 WIB
Nasib Keroncong, Musik Kesukaan Bung Karno yang Sempat Dilabeli PKI
Penampilan grup musik keroncong di Museum Musik Indonesia, Malang (Foto: MPI/Avirista Midaada)

MALANG, celebrities.id – Musik keroncong merupakan salah satu musik favorit Ir. Soekarno. Kecintaan Bung Karno kepada keroncong bahkan membuat musik ini kerap kali dipromosikan saat kunjungan ke luar negeri.

Sejarawan dan peneliti keroncong Rakai Hino Galeswangi menuturkan, Bung Karno dalam biografinya pernah menuturkan bahwa genre musik keroncong inilah yang menjadi favoritnya, sebab musik ini merupakan produk asli Indonesia.

“Bung Karno nyimpulkan (musik keroncong) punyanya Indonesia, bukan punya luar (negeri), makanya dengan memunculkan sifat nasionalisnya, yang membangga-banggakan dirinya Bung Karno kan orangnya narsis, Indonesia adalah saya, saya adalah Indonesia, maka harusnya produk apapun Indonesia harus saya munculkan,” ucap Rakai Hino, kepada MNC Portal, Minggu (10/10/2021).

“Bung Karno pernah menyumbang dan menggandrungi juga musik keroncong. Dia senang banget musik keroncong itu, ke genre keroncong, beliau menganggap inilah produk Indonesia asli,” ujarnya.

Tercatat Bung Karno pernah memutar musik keroncong yang jadi favoritnya saat kunjungan ke Belanda dan beberapa negara lainnya. Hal ini tentu membuat musik keroncong menjadi kian dikenal di beberapa negara, sebagai musik asli Indonesia.

Namun karena identiknya musik keroncong dengan Bung Karno, pasca kejadian gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 30 September 1965, keroncong diidentikkan dengan musiknya para kaum kiri alias sosialis komunis dan menjadi musuh negara, yang tak diperbolehkan dimainkan. Bahkan pasca peristiwa 65, pihaknya mencatat ada penghentian memainkan lagu keroncong kepada seniman asal Jakarta, yang dianggap menjadi anggota Lekra, organisasi sayap kesenian yang berafiliasi dengan PKI.

“Ada kasus seorang kakek di Jakarta namanya Supaksi dihentikan, karena diindikasikan dia memainkan lagu-lagu yang mengarah katanya dianggap warnanya orang merah komunis, pasca 65 dihentikan dianggap sebagai Lekra, padahal dia bukan Lekra. Dia ngamennya memang genre-nya keroncong, tapi dianggap sebagai Lekra,” katanya.

 

1
/
2