Peneliti AS Lakukan Rekayasa Antibodi Monoklonal, Berpotensi Cegah Malaria

Wiwie Heriyani
Jumat 05 Agustus 2022 00:00 WIB
Peneliti AS Lakukan Rekayasa Antibodi Monoklonal, Berpotensi Cegah Malaria
Peneliti AS Lakukan Rekayasa Antibodi Monoklonal, Berpotensi Cegah Malaria. (Foto:celebrities.id/Freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Sejumlah peneliti belum lama ini menemukan salah satu cara yang berpotensi untuk mencegah malaria, yang menjadi salah satu pembunuh di seluruh dunia.

Penemuan tersebut didapatkan pasca percobaan kecil yang telah dilakukan pada beberapa sukarelawan. Dikutip dari laman Healthday, Kamis, (4/8/2022), peneliti pemerintah AS menemukan bahwa melalui rekayasa antibodi yang dilakukan di laboratorium, terbukti melindungi sebagian besar peserta yang menjadi sukarelawan dari infeksi malaria.

Termasuk peserta sukarelawan yang telah menerima dosis antibodi yang lebih tinggi. Para peneliti juga menunjukkan kemungkinan untuk memberikan antibodi dengan suntikan standar, daripada infus IV yang biasanya digunakan untuk memberikan antibodi monoklonal. Meski begitu, para ahli memastikan bahwa masih banyak penelitian lebih lanjut yang harus dilakukan.

Namun, mereka juga menilai temuan itu sebagai perkembangan ‘menarik’ terhadap penanganan kasus dari penyakit yang menjadi ‘pembunuh utama’ anak-anak di negara berkembang. Malaria disebabkan oleh parasit yang ditularkan oleh nyamuk jenis tertentu. Terlepas dari berbagai upaya pencegahan, mulai dari pemakaian kelambu berinsektisida saat tidur, hingga obat pencegah penyakit, malaria tetap terus menimbulkan banyak korban.

Pada tahun 2020, lebih dari 240 juta orang terjangkit malaria dan lebih dari 600.000 meninggal kebanyakan anak-anak di bawah 5 tahun di Afrika sub-Sahara.

“Bayangkan menjadi orang tua yang tinggal di tempat dengan penularan malaria yang tinggi. Anak Anda bisa mati karena gigitan nyamuk,” kata Dr. Robert Seder, dari Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS.

Parasit malaria melewati berbagai tahap pertumbuhan dalam tubuh manusia. Ketika nyamuk yang terinfeksi menggigit seseorang, dia ‘meludahkan’ sejumlah parasit kecil ke dalam darah, dalam bentuk yang disebut sporozoit. Sporozoit tersebut kemudian melakukan perjalanan ke hati, di mana mereka  kemudian berkembang biak.

Editor : Leonardus Selwyn Kangsaputra