20 Puisi Hari Guru Singkat yang Menyentuh dan Mudah Dihafal

Icon CameraIqbal Widiarko
Rabu 23 November 2022 14:13 WIB
20 Puisi Hari Guru Singkat yang Menyentuh dan Mudah Dihafal
Puisi hari guru singkat dan bermakna. (Foto: Freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Puisi hari guru dapat menambah referensi kamu dalam pembuatan karya sastra dalam rangka memperingati Hari Guru tahun ini. 

Hari guru memiliki makna sebagai bentuk penghormatan kepada guru atas jasa-jasa yang telah dilakukannya selama mengajar.

Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai hari ulang tahun guru se-Indonesia, bertepatan dengan berdirinya PGRI. PGRI lahir pada 25 November 1945, setelah 100 hari proklamasi kemerdekaan Indonesia. Organisasi PGRI diawali dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912, lalu berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) tahun 1932.

Dilansir dari berbagai sumber, celebrities.id, Rabu (23/11/2022) telah merangkum puisi hari guru, seperti berikut.

Puisi Hari Guru

Inilah beberapa puisi hari guru yang dapat kamu simak, seperti yang dikutip dari buku bertajuk “Renungan Antologi Sayembara Puisi Guru” (2015) oleh Firman Susilo.

1. Napas Wangi Sang Pencerah

(Fadliansyah)

Setitik embun yang jatuh di dedaunan
Ketika surya pagi tertawa menyinari bumi
Sebongkah harapan dari sang pencerah
Demi kemajuan anak bangsa
Wahai sang pencerah
Kau datang dari kejauhan
Berpuluh-puluh kilometer langkah kaki kau ayunkan
Demi mencerdaskan anak bangsa
Wahai Sang pencerah, kau hanya bisa memandangi kami
ketika kami berbuat salah.
Dengan bijak, perlahan-lahan suaramu sayup-sayup
terdengar di telinga kami
Mau nasehati kami dengan kata-katamu yang halus dan bijak
Wahai sang pencerah, hidupmu jauh dari kata
sejahtera
Rumahmu beralaskan tanah
Atapnya beratapkan langit
Dindingnya berdindingkan bambu
Tapi engkau tak menghiraukan semua itu,
Yang kau pikirkan
Bagaimana mencerdaskan anak bangsa
Hidup kami hampa, tanpa ilmu pengetahuan yang kau
berikan

Hidup kami tandus, tanpa kata-katamu yang halus dan
bijak
Pilihan kami kosong, tanpa ide-idemu yang cemerlang
Kami tidak punya pegangan dalam hidup
Kaulah yang memberikan arah tujuan dalam hidup
Kau selalu mengajari kami tentang kebaikan
Dengan kata-katamu yang bijak, engkau mengubah
hidup kami
Dari yang bodoh, tidak bisa baca tulis, hingga menjadi
orang yang cerdas
Napasmu selalu kau hembuskan ke ubun-ubun kami
Sehingga kami termotivasi dalam belajar

Kami sukses dalam berprestasi, engkau terlupakan
Kami menjadi orang yang kaya raya, engkau terlupakan
Kami menjadi pemimpin bangsa, engkau terlupakan
Kami menjadi orang yang terkenal, engkau terlupakan
Wahai sang pencerah, dikala napasmu, napas terakhir
Sang malaikat maut tersenyum merenggut nyawamu
Dunia akan menangisi kepergianmu
Engkau ikhlas kan semua itu
Engkau tak pernah berharap balasan
Tentang apa yang telah kau perbuat
Engkau adalah pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa
Napasmu, napas sang pencerah
Yang selalu menerangi renung hati kami, untuk
selama-lamanya

2. Pendekar Pendidikan Bangsa

(EV. Sutarno)

Wahai sang guru, engkaulah pahlawan ilmu pengetahuan
yang mengolah adonan
Generasi bangsa yang hidup masa 353 tahun lalu, yang
penuh tantangan perjuangan masa penjajahan, dimana
rakyat Indonesia hidup tengah-tengah kemiskinan,
kebodohan, dan keterbelakangan oleh penjajah mental
imperialisme yang serakah yang tidak mengenal hak asasi
manusia sehingga pada 20 mei 1928 membangkitkan
insan anak muda terdidik untuk berjuang dengan tenaga,
jiwa dan darah, serta kecerdasan pendidikan dalam
organisasi untuk melawan dan mengusir penjajah yang
bercokol di bumi nusantara.

Engkau seorang ahli visi yang memiliki pandangan
terdepan sangat luas untuk menjadikan generasi anak
bangsa yang memiliki standar moral dan karakter yang
takutTuhan, yang telah membangkitkan, dan inspirasi
rakyat Indonesia dalam pembangunan manusia
seutuhnya demi mengejar ketertinggalan akibat
penjajahan yang berkepaniangan berakibat ditemukan
rakyat tidak bisa menulis, namanya sendiri ada 98% dari
jumlah penduduk yang ada setelah zaman kemerdekaan
di wilayah nusantara persada.

3. Jawaban Mati

(Rafsanjani)

Sesak berdesak meniadi-jadi
Ketika nanti selalu kita kebiri
Untuk menanti dan nanti kunanti
Dalam pergi berjuta mimpi
Aku masih guru duniaku
Guru untuk pagiku
Dan masih guru untuk duniamu
Membawamu ke lembah ilmu
Tetes keringat adalah tanda air mata

Bahwa bau tak selamanya meniadi bau
Karena bau ini bertahta bak senjata pelindung mahkota
Di tengah gelombang kemarau
Noktah itu lah yang membawa haru
Dan menumpahkan madu
Bahwa aku tetap meniadi jawaban mati
Bagi segala yang telah terbagi
Di hari nanti, ketika mati itu benar-benar mati
Membawaku ke dunia sejati
Dalam alunan kaligrafi hati

4. Hymne Perpisahan

(Ai Marhayanti)

Bersama tak kami dustai waktu
Tak kami lupa tuk berpacu
Selalu terkenang kala kami terpencil
Di hamparan ladang kebingungan
Kebingungan yang menggertakkan harapan sebagai awai
kebahagiaan
Ibu Bapak guru, terima kasih tak terbalaskan atas
Kelulusan dan keikhlasanmu membimbing kami
Membuka halaman-halaman buku pengharapan
Hingga terbalaskan doa dan air mata orangtua kami

Kini tiba masa nya kami tiba di puncak ketinggian
Dengan cita dan angan terbayang betapa engkau pernah
mendendangkan harap, bahwa telah engkau perlihatkan
semesta
Kau ingin kami mampu menafsirkan simbol-simbol
kehidupan
Kala ditarik bintang harapan, agar tak terjatuh oleh batu
keputusasaan
Asa yang takkan terlupa semoga kami dapatkan
singgasana kejayaan tahta

Menghiasi masa kini dan nanti dengan jubah-jubah yang
melimpah
Kujadikan keluruhan syukur atas kehangatan
Jasa tak kenal pamrih darimu
Untaian dawai indah doa tulus darimu tetap kami harap
Agar bisa terus melaniutkan cita-cita ini
Bangga kami saat kembali kepelukan kedua orang tua
Yang tak pernah salah menitipkan kami di pangkuanmu
Tak terkira terima kasih ini
Terima kasih ibu-Bapak Guru, Ayah, Bunda,
Terima kasih Tuhan Yang Maha Esa atas Maha Kuasamu
dan Maha Ridho Mu

5. Wasiat Seorang Guru

(Trihartati)

Anakku, ini wasiatku
Bila cintamu pada ilmu telah menyatu
Buktikan kau mampu berburu
Ke tengah rimba raya
Susuri jalan belukar
Jangan tersesat dalam putus asa
Bila pagi tantanglah matahari
Kau harus lebih dahulu menepati janji
Menjemput cahaya-Nya
Kala terik matahari mendidihkan ubun-ubun
Berpikirlah pada kesungguhan
HIduplah untuk berjuang
Dan ketika petang merambang
ingatlah Ilmu tak akan datang

Maka jemput dengan pencarian
Inilah wasiatku, anakku
Sebelum batang waktu menua
Sebelum hllang nyawa
Berbekallah dengan Ilmu yang berguna
Ayunlahh langkah menuju cita mulla

 

1
/
3