Rafael Nadal Tak Ingin Disebut Petenis Legendaris, Kok Gitu?

Rio Erfandi
Kamis 16 September 2021 22:08 WIB
Rafael Nadal Tak Ingin Disebut Petenis Legendaris, Kok Gitu?
Rafael Nadal mengoleksi 20 gelar Grand Slam. (Foto: celebrities.id/Instagram)

MADRID, celebrities.id - Peraih 20 gelar Grand Slam, Rafael Nadal mengaku tak ingin dikenal sebagai petenis legenda dunia saat gantung raket nanti. Dia lebih senang jika dijadikan panutan oleh anak-anaknya.

Selain Rafael Nadal, hanya ada dua petenis lain yang mengoleksi 20 trofi bergengsi tersebut, yakni Novac Djokovic dan Roger Federer. Dengan demikian, tak berlebihan jika saat pensiun nanti Nadal didapuk sebagai atlet legendaris tenis.

Namun, ternyata hal itu tak disukainya. Dia menegaskan ada hal yang lebih besar, yakni ingin jadi seorang panutan ketika sudah gantung raket.

“Pada masa depan, saya tidak ingin dikenang sebagai pemain tenis dengan banyak gelar, tetapi orang yang telah meninggalkan contoh yang baik untuk anak laki-laki dan perempuan, itu satu-satunya tujuan saya,” ujar Nadal, dilansir dari dari Tennisworld, Kamis (16/9/2021).

“Jika satu hal yang saya harap dapat dikatakan bahwa saya telah melakukannya dengan baik adalah bahwa saya telah menularkan hal-hal positif di dalam dan di luar lapangan. Sesuatu yang membuat saya sangat puas,” kata dia lagi.

Saat ini, Nadal sendiri masih belum bisa turun ke lapangan karena kondisi fisiknya yang belum optimal. Nadal tengah menjalani pemulihan cedera kaki kirinya.

Nadal tak ingin terburu-buru untuk kembali beraksi ke lapangan. Dia masih fokus untuk penyembuhan cederanya meski sudah banyak undangan dari berbagai ajang untuk diikuti.

“Banyak turnamen memang sudah menghubungi saya untuk terjun ke lapangan, tapi berbeda dengan sebelumnya. Untuk bermain, saya harus siap fisik dan mental, tidak ada yang punya batere tak terbatas," kata Nadal.

"Saat masih muda, energinya banyak. Tetapi sekarang Anda harus membuat keputusan yang terkadang tidak Anda sukai dan melewatkan turnamen yang ingin Anda mainkan,” ujarnya lagi.

Editor : Dhita Seftiawan