Review Film Spencer: Kisah Lady Diana, Putri Kerajaan yang Tak Menginginkan Sepatu Kaca

Putri Rahmawati
Senin 22 November 2021 14:10 WIB
Review Film Spencer: Kisah Lady Diana, Putri Kerajaan yang Tak Menginginkan Sepatu Kaca
Kisah Putri Diana digambarkan dengan menakjubkan oleh sutradara Pablo Lorrain lewat film Spencer. (Foto: celebrities.id/ Instagram).

JAKARTA, celebrities.id - Putri kerajaan zaman modern jarang memiliki cerita dongeng. Kisah Putri Diana pun sudah tidak ada lagi. Bahkan, kabar terbaru, seorang putri Jepang memilih untuk keluar dari monarki tertua yang masih ada di dunia. Dia pergi ke belahan dunia untuk menikah dengan pria dari kalangan biasa.

Namun, ada sesuatu tentang Lady Diana, yang mungkin tidak diketahui masyarakat dunia. Tapi, ini bukan tentang eksplorasi terbaru dari Princess of Wales atau PoW. Ini tentang ‘iblis’ yang mengejarnya hingga ke tempat dia berakhir.

Kisah Diana digambarkan dengan menakjubkan oleh sutradara Pablo Lorrain (Jackie) lewat film Spencer, di mana film itu bermandikan kesedihan dan perasaan takut yang semakin besar dari wanita muda yang berada di ujung tanduk.

Ya, Spencer merupakan film biografi tentang Putri Diana tentang akhir pekan pada awal 1990an, tepatnya pada 1992, saat dia menghabiskan liburan Natal bersama keluarga Kerajaan di perkebunan Sandringham, Norfolk.

Pada liburan itu, dia memutuskan untuk meninggalkan pernikahannya dengan Pangeran Charles. Dia juga memutuskan untuk meninggalkan gelar sebagai wanita berdarah biru.

Keputusan ini terkait dinamika kekuasaan, pengaruh tradisi yang luar biasa hingga kerinduan Putri Diana akan sebuah kebebasan, di mana dia memutuskan ingin kembali menjadi wanita biasa, seperti sebelum bertemu dengan Pangeran Charles yang diperankan Jack Farthing.

Jika dalam dongeng, pangeran akan datang dan mencari putri, kemudian menjadikannya ratu hingga hidup bahagia.

Namun, dalam film ini, semuanya terbantahkan. Putri Diana enggan menjadi ratu dan lebih menyukai menjadi diri sendiri. Sang Putri tidak menginginkan sepatu kaca seperti dalam dongeng.

Editor : Tedy Ahmad