Sejarah Hari Kartini, Perjuangan Emansipasi Wanita pada Awal Abad ke-20

Mutiah Nur Rahmah
Kamis 21 April 2022 19:15 WIB
Sejarah Hari Kartini, Perjuangan Emansipasi Wanita pada Awal Abad ke-20
Sejarah Hari Kartini, perjuangan emansipasi wanita pada awal abad ke-20. (Foto:celebrities.id/Freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Sejarah Hari Kartini dapat memberikan inspirasi menarik bagi generasi muda masa kini. Seperti diketahui, Hari Kartini diperingati setiap 21 April. Ini merupakan hari bersejarah di mana Raden Ajeng Kartini memperjuangkan emansipasi bagi para wanita di zaman itu agar setara dalam hak dan kewajiban terutama dalam meraih pendidikan.

Hari kartini ditetapkan oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, melalui Keputusan Presiden RI Nomor 108 Tahun 1964, pada 2 Mei 1964. Tepat pada hari lahir Kartini tanggal 21 April 1879, Kepres menetapkan 21 April sebagai hari nasional untuk Hari Kartini setiap tahunnya.

Sejarah Hari Kartini

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada 21 April 1879 dan wafat di Rembang pada 17 September 1904 di usianya yang ke-25 tahun. R.A Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa, namun keluarganya tidak merasakan mewahnya kehidupan yang dialaminya. Kartini tetap peduli melihat berbagai tragedi menyedihkan yang dirasakan perempuan pada awal abad ke-20 di zamannya. Kala itu harkat perempuan jatuh ke dalam keadaan yang sulit.
 
Realitanya, kondisi perempuan pada masa itu wajib mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya, anak gadis harus dididik untuk menjadi budak laki-laki, perempuan dijauhkan dari pendidikan dan kecerdasan, bahkan jika sudah berumur dua belas tahun perempuan dilarang untuk keluar rumah dan harus tetap di dalam rumah (dipingit).
 
Dari keadaan yang dilihat pada zamannya, muncul kegelisahan dalam diri R.A Kartini karena perempuan menjadi terhambat akan perkembangan zaman, dijauhkan dari cita-cita, dikekang oleh adat dan dibutakan oleh peradaban bangsanya sendiri yang semakin lama semakin terjajah.
 
Hal itu juga dirasakan oleh Kartini muda. Pada saat berumur 12 tahun, Kartini terpaksa berhenti dari sekolah karena budaya yang melekat pada zamannya. Tidak mudah menyerah begitu saja, Kartini tetap berusaha menimba ilmu untuk mendapatkan pengetahuan walau hanya dilakukan melalui rumahnya.

 


 
Kerja keras Kartini membuahkan hasil dengan mendirikan sekolah khusus putri di Jepara. Di sekolah ini para perempuan diajarkan bagaimana cara memasak, menjahit dan menyulam. Kartini juga sering menuliskan banyak surat untuk temannya di Belanda, Rosa Abendanon mengenai keinginannya untuk menaikkan derajat perempuan di Indonesia.
 
Di tahun 1911, tulisan-tulisan Kartini diterbitkan. Seorang Belanda bernama Conrad Theodore van Deventer tokoh politik etis tertarik akan tulisan dari RA Kartini. Karena tulisan Kartini sejalan dengan cita-cita dari Deventer, yakni mengangkat bangsa pribumi serta memperjuangkan emansipasi mereka.
 
Pada 1912 dibentuk komite untuk merumuskan pendidikan perempuan di Jawa dengan penggerak orang-orang yang dekat dan membaca surat-surat dari Kartini. Di tahun ini juga diresmikannya Yayasan Kartini dengan pemimpin utama Yayasan Conrad Theodore van Deventer.

Hari Kartini Ditetapkan sebagai Hari Nasional

Untuk mengenang kegigihan perjuangan dari Kartini yang membawa perubahan bagi peradaban kaum perempuan, pada masa pemerintahan presiden Soekarno pada tanggal 2 Mei 1965 sebagai bentuk penghormatan dan menjadi pahlawan “Emansipasi Wanita” di Indonesia melalui Keputusan Presiden RI Nomor 108 Tahun 1964.
 
Hari kartini ditetapkan bersamaan dengan lahirnya RA Kartini untuk diperingati setiap tahunnya oleh bangsa Indonesia untuk mengingat dan mengenang perjuangan dari RA Kartini. Nama Kartini besar tidak hanya di Indonesia, di negara Belanda pada beberapa daerah terdapat nama jalan yang membawa nama Kartini, R.A Kartinistraat, terdapat di Ultretch, Venlo, Amsterdam Zuidoost, Bilmer (ditulis dengan lengkap Jalan Raden Ajeng Kartini), Haarlem.

Editor : Leonardus Selwyn Kangsaputra