Tika Panggabean dan Gita Bhebhita Ungkap Rahasia Budaya Keluarga Batak, Perempuan Disarankan Tidak Merantau!

Ahmad Haidir
Rabu 25 Mei 2022 22:42 WIB
Tika Panggabean dan Gita Bhebhita Ungkap Rahasia Budaya Keluarga Batak, Perempuan Disarankan Tidak Merantau!
Tika Panggabean dan Gita Bhebhita ungkap rahasia budaya keluarga Batak, perempuan disarankan tidak merantau! (Foto:celebrities.id/MPI Laras Dwi Sasmita)

JAKARTA, celebrities.idTika Panggabean dan Gita Bhebhita mencoba mengungkapkan budaya keluarga suku Batak dalam projek film berjudul ‘Ngeri Ngeri Sedap’. Film ini mengangkat cerita tentang kehidupan keluarga Batak sekaligus memperkenalkan adat dan budaya dari suku yang berasal dari wilayah Provinsi Sumatra Utara itu.

Film besutan sutradara Bene Dion Rajagukguk itu benar-benar kental nuansa Batak yang dikemas dengan bumbu komedi. Meski demikian, film ini juga penuh pesan moral serta mengangkat konflik yang terasa dekat dengan kehidupan berkeluarga secara umum.

Dalam film ‘Ngeri Ngeri Sedap’, Tika Panggabean berperan sebagai sosok Marlina yang merupakan ibu dari Sarma yang diperankan oleh Gita Bhebhita. Kedua artis wanita Batak ini pun mengungkap rahasia mengenai budaya keluarga suku mereka terkait perempuan.

“Entah kenapa di keluarga Batak, anak perempuan itu lebih dekat dengan ayah dan ibunya. Dan kita ada semacam budaya tidak tertulis di mana anak perempuan sebaiknya tidak merantau dan tinggal dengan orangtuanya,” kata Tika Panggabean saat acara Press Screening & Conference Film ‘Ngeri Ngeri Sedap’ di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Rabu (25/5/2022).

“Walaupun begitu, orangtua saya sih demokratis banget ya. Cuma saya ya tetap tinggal dengan mereka, kayak udah bawaan aja apalagi ketika ayah saya meninggal, saya makin mantap memutuskan untuk mengurus ibu. Dan di situ ya saya pribadi jadi malah bangga dan ingin mengapresiasi perempuan batak lain di luar sana buat mereka yang tetap bertahan merawat orangtua," tutur salah satu personel Project Pop itu.

Senada dengan Tika Panggabean, Gita Bhebhita menyebutkan bahwa budaya keluarga Batak soal anak perempuan yang sebaiknya tinggal dengan orangtuanya, dan itu seakan terpatri di benaknya.

“Saya anak perempuan bungsu di keluarga, saya bisa bilang iya (re : sebaiknya anak perempuan tinggal bersama orangtuanya) karena saya baru bisa merantau ketika bapak saya pergi,” ucapnya.

“Beliau memang tidak pernah bilang saya tidak bisa pergi, tapi di keluarga saya termasuk yang paling dekat dengan orang tua, jadi akhirnya ya saya memutuskan untuk tinggal dengan mereka sampai saya ‘menunda’ mimpi saya untuk jadi PNS lho,” ujar Gita.

Editor : Leonardus Selwyn Kangsaputra