Waspada Neuropati, Ketua PERDOSSI Ungkap Faktor Penyebabnya

Leonardus Selwyn Kangsaputra
Selasa 21 Juni 2022 21:29 WIB
Waspada Neuropati, Ketua PERDOSSI Ungkap Faktor Penyebabnya
Waspada Neuropati, Ketua PERDOSSI Ungkap Faktor Penyebabnya. (Foto:celebrities.id/Freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Pandemi Covid-19 yang melanda dunia menyebabkan masyarakat menjadi kurang melakukan aktivitas fisik. Berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018, proporsi penduduk Indonesia yang kurang aktivitas fisik meningkat dari 26,1 persen pada 2013 menjadi 33,5 persen pada 2018.

Tentunya perilaku hidup sedentari ini dapat berisiko menyebabkan penyakit tidak menular (PTM) termasuk kerusakan saraf salah satunya adalah neuropati. Oleh sebab itu masyarakat wajib mengetahui bahaya kesehatan yang ditimbulkan dari kebiasaan tersebut untuk mencegah berbagai hal yang tidak diinginkan.

Ketua Pokdi Neuro Fisiologi Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI), dr. Manfaluthy Hakim, Sp.S(K), menjelaskan saraf tepi atau perifer menghubungkan sistem saraf pusat dengan semua bagian penting tubuh. Neuropati sendiri adalah gangguan pada sistem saraf tepi yang bisa terjadi akut ataupun kronis, dengan gejala umum seperti kebas, kesemutan, rasa seperti tertusuk, dan sensasi terbakar di tangan dan kaki yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien.

"Penyebab gangguan saraf tepi dapat terjadi karena penyakit tertentu, kondisi fisik, usia lanjut, dan kurangnya asupan nutrisi. Vitamin B berperan penting karena mampu meregenerasi sel saraf sehingga asupan vitamin B harus tercukupi untuk menjaga kesehatan saraf tepi," kata Manfaluthy dalam acara 'Neuropathy Awareness Week', Senin 21 Juni 2022.

Menurutnya, deteksi dini sangatlah penting agar pengobatan lebih awal dapat dilakukan termasuk pemberian vitamin neurotropik. Selain itu edukasi dini kepada masyarakat melalui kampanye 'Feel Life' dalam rangka memperingati Neuropathy Awareness Week 2022 sangat penting untuk dilakukan.

"Hal tersebut bertujuan untuk mencegah dampak neuropati yang lebih berat, karena kerusakan saraf dapat bersifat irreversible jika lebih dari 50 persen serabut saraf telah rusak. Setiap orang memiliki potensi risiko gejala neuropati, karena itu Neuropathy Awareness Week menjadi waktu yang tepat untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin dan mencegah dampak bahayanya," tuturnya.

Editor : Leonardus Selwyn Kangsaputra