Yuk Peduli Isu Stunting, Penuhi Protein Hewani hingga Rutin Cek Tinggi dan Berat Anak

Icon CameraFelldy Utama
Kamis 26 Januari 2023 06:30 WIB
Yuk Peduli Isu Stunting, Penuhi Protein Hewani hingga Rutin Cek Tinggi dan Berat Anak
Cegah stunting dengan berikan anak protein hewani dan rutin periksa tinggi hingga berat badan. (Foto: celebrities.id/Freepik)

JAKARTA, celebrities.id - Stunting masih menjadi momok dan pekerjaan bersama pemerintah dan masyarakat Indonesia. 

Untuk itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin terus mengkampanyekan pentingnya pengukuran hingga pemberian protein hewani kepada anak, utamanya anak usia di bawah dua tahun untuk mencegah stunting.

“Setelah bayi berusia enam bulan harus rajin melakukan pengukuran, karena Selain ASI eksklusif juga ada makanan tambahan, kalau kurang protein hewani anaknya bisa stunting. Protein hewani ini seperti susu, telur, ikan dan ayam,” kata Menkes dalam keterangannya yang tepat pada peringataun Hari Gizi Nasional, Rabu (25/1/2023).

Merujuk data Survei Status Gizi Nasional (SSGI) 2022, prevalensi stunting di Indonesia di angka 21,6 persen. Jumlah itu memang menurun dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 24,4 persen. Namun, angka tersebut masih terbilang tinggi, mengingat target prevalensi stunting di tahun 2024 sebesar 14 persen dan standard WHO di bawah 20 persen.

Budi mengatakan, angka stunting yang masih tinggi tersebut disebabkan berbagai faktor, salah satunya karena kurangnya asupan penting seperti protein hewani, nabati dan zat besi sejak sebelum sampai setelah kelahiran. Hal tersebut berdampak pada bayi lahir dengan gizi yang kurang, sehingga anak menjadi stunting.

Lebih lanjut, Menkes menekankan bahwa cara tersebut efektif mencegah stunting pada anak karena protein hewani mengandung zat gizi lengkap seperti asam amino, mineral dan vitamin yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Hal itu diperkuat dengan hasil penelitian yang menunjukkan adanya bukti kuat hubungan antara stunting dan indikator konsumsi pangan berasal dari hewan, seperti telur, daging/ikan dan susu atau produk olahannya (keju, yogurt, dll). Penelitian tersebut juga menunjukan konsumsi pangan berasal dari protein hewani lebih dari satu jenis lebih menguntungkan daripada konsumsi pangan berasal dari hewani tunggal.

Sayangnya, meski bermanfaat untuk mencegah stunting pada anak, konsumsi protein per kapita masih tergolong rendah. Data Susenas 2022 menunjukkan rata-rata konsumsi protein per kapita sehari 62.21 gram (diatas standar 57 gram), tetapi konsumsi telur dan susu 3.37 gram, daging 4.79 gram dan ikan/udang/cumi/kerang berkisar 9.58 persen.

Dia pun berharap peringatan Hari Gizi Nasional ke-63 tahun 2023 yang mengusung tema “Protein Hewani Cegah Stunting” dengan slogan “Protein Hewani Setiap Makan” dan “Isi Piringku Kaya Protein Hewani” menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk melakukan upaya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi seimbang pada anak.

“Tidak hanya memberikan protein hewani pada anak, berat dan tinggi badan anak juga harus dipantau secara berkala di Posyandu. Ini penting untuk melihat keberhasilan intervensi sekaligus upaya deteksi dini masalah kesehatan gizi sehingga tidak terlambat ditangani,” ujarnya.

“Karenanya kalau kita sayang anak-anak kita, tolong dipastikan kalau ditimbang berat badannya naik, kalau tidak naik segera bawa ke Puskesmas,” tutur dia melanjutkan.

Editor : Lisvi Padlilah

Follow Berita Celebrities di Google News